Kemarau berlalu seolah ia telah usai, membakar diri-diri yang tetap terus merindu. Lalu tetes air turun, satu dua tiga hingga kemudian jutaan. Menghadirkan genangan pada lubang-lubang yang dulunya kering hingga terlihat bebatuan. Anak kecil berlarian, menatap ke langit dengan tawa kebahagiaan. Memercikkan air di genangan untuk membuat temannya kelabakan, dan akhirnya tertawa bersama. Tidak lama kemudian seorang pengendara yang mengejar waktu, melewati mereka begitupula genangan yang semakin meninggi. Ketika mereka masih tertawa riang, tiba-tiba mulutnya penuh dengan air genangan akibat pengendara yang tak peduli jalan. Sereceh itu aku tertawa, melihat mereka memaki dan menyesali rasa air genangan yang tertelan. Seperti itu ketika aku bersamamu, hal kecil yang berbuah tawa Mengartikan bahagia hanya saat mendengarmu bercerita Dan menjadi candu untuk terus menikmatinya. Akankah ini semua berlalu? Ketika kamu kembali pada pelukan yang sesungguhnya bukanlah aku, Melainkan dia yang tela...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.