Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Aku tidak mau kamu jadi pusat perhatian

Aku tidak mau kamu dikenal banyak orang, Menjadi pusat perhatian setiap langkahmu berjalan. Anggap ini rasa cemburu, tapi tak berlebihan kan? Aku hanya ingin, cuma aku lah yang bisa memperhatikanmu setiap waktu, setiap langkahmu. Dan hanya aku lah yang tau segalanya tentangmu, bukan orang lain yang bahkan mereka pun tidak kamu kenal. Aku tidak mau mereka lebih tau dariku. Perempuanku, aku ingin berada disampingmu. Menunjukkan pada khalayak bahwa kamu sedang kujaga, dan tak boleh seorang pun menjadikanmu pusat perhatian. Karna, kamu bersamaku. Meski tidak pernah kumiliki. Baiklah, mungkin ini membingungkan. Tapi coba tanya pada orang yang melihat kita, dan dengar apa yang mereka katakan tentang kita. Serasi? Cocok? Ya. Dan itu berhasil membuat laki-laki yang memperhatikanmu menundukkan pandangannya. Kita serasi. Meski tidak pernah saling memiliki.

Melawan waktu dan jarak

Kamu, yang kutemui pertama kali dengan tatapan meneduhkan. Menggiringku untuk berasumsi bahwa cukup dengan melihatmu, aku bisa berdamai dengan waktu. Waktu yang nyatanya hanya berkompromi dengan jarak, tidak denganku. Mereka saling berbisik untuk menjauhkanmu dariku, membawa jauh si pemilik tatapan meneduhkan, hingga untuk kuraih pun menjadi sangat mustahil. Dan tabu dimata yang lain. Tapi, ketika aku mulai memejamkan mata, coba merelakan yang memang tak direstui oleh waktu, sesosok bayangan berlari dari kejauhan. Berlari dengan sekuat tenaga, sampai suara napas yang tersendat-sendat pun terdengar jelas. Sangat jelas, bersama kamu dengan wajah letihmu. Namun tidak pernah merubah tatapan meneduhkan itu. Tatapan yang hanya dimiliki satu orang, yaitu kamu. Cukup lama kamu mengatur napas, aku tau betul kamu pasti lelah, karena waktu benar-benar menyeretmu sejauh mungkin. Dan sekarang aku hanya bisa memperhatikanmu, menatap seseorang yang kuanggap mustahil untuk datang menjemputku. Ras...

Kita, yang dipermainkan jarak

Kita, yang dipermainkan jarak, Bagaimana caranya mengelak? Kita, yang dipermainkan waktu Mengapa kita tidak bisa menyatu? Pada siapa kita bertanya? Mengapa kita dipertemukan tanpa tau alasannya. Siapa yang bisa menjelaskan? Saat kita saling meragukan, Kita yang menginginkan lebih, Tapi siapa yang menjamin tidak adanya hati yang tersakiti. Dan saat kita coba merangkak lebih jauh, Mengelakkan kenyataan yang nyatanya tak mungkin tersentuh. Kita, sudah diakhir penghujung, Dengan cerminan yang dianggap sudah berujung. Namun, kita merasa semua tak ada ujungnya, Sebelum kita menyempurnakannya, Dengan kita bersama. Lagi-lagi, waktu dan jarak yang mengoyak kesadaran kita. Siapa aku? Dan siapa kamu? Mengapa sedari tadi aku menyebut; aku dan kamu, menjadi; kita. Mengapa?