Kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa kamu masih menungguku, memberiku waktu menyusuri semak belukar dan kerikil tepi pantai untuk menuju pelukanmu. Hingga sekembalinya aku, kamu tetap menjaga hangatnya dada bidangmu. Dan enggan melangkah, agar ketika datang, ku tak lagi susah mencarimu. Begitu harapku. Namun setelah aku benar-benar datang, yang ada hanya ilalang bergoyang bersama kunang-kunang. Mereka menatapku nanar, seolah memberiku isyarat bahwa harapku tidak benar. Aku hanya tersenyum miris, karena airmataku sudah habis. Duri pada semak belukar, tajamnya ujung kerikil, membuatku mudah menangis. Tak satu atau dua luka, namun ribuan. Tapi ku anggap mudah, karena sebuah tujuan. Tapi sekarang? Hanya kekosongan. Mataku menerawang jauh. Menatap dua insan yang saling melempar senyuman. Mata mereka bertaut, hingga sebuah pelukan menghangatkan tubuh sang perempuan. Kakiku yang penuh bekas luka, tiba-tiba mundur hingga 5 langkah. Tanganku yang penuh sayatan, menekan dada beru...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.