Langsung ke konten utama

Ketika kamu pergi

Kemarin aku sempat meyakinkan diri bahwa kamu masih menungguku, memberiku waktu menyusuri semak belukar dan kerikil tepi pantai untuk menuju pelukanmu. Hingga sekembalinya aku, kamu tetap menjaga hangatnya dada bidangmu. Dan enggan melangkah, agar ketika datang, ku tak lagi susah mencarimu.
Begitu harapku.
Namun setelah aku benar-benar datang, yang ada hanya ilalang bergoyang bersama kunang-kunang.
Mereka menatapku nanar, seolah memberiku isyarat bahwa harapku tidak benar.
Aku hanya tersenyum miris, karena airmataku sudah habis.
Duri pada semak belukar, tajamnya ujung kerikil, membuatku mudah menangis.
Tak satu atau dua luka, namun ribuan. Tapi ku anggap mudah, karena sebuah tujuan.
Tapi sekarang? Hanya kekosongan.

Mataku menerawang jauh.
Menatap dua insan yang saling melempar senyuman.
Mata mereka bertaut, hingga sebuah pelukan menghangatkan tubuh sang perempuan.

Kakiku yang penuh bekas luka, tiba-tiba mundur hingga 5 langkah.
Tanganku yang penuh sayatan, menekan dada berusaha meringankan.

Apa yang ku yakini selama ini ternyata hanyalah angan. Untuk menunggu, kamu tidak mampu. Untuk menjaga hangatnya dadamu, kamu tidak mau. Dan kamu, telah pergi ketika ku datang menemuimu.

Bodohnya aku yang mengharapkanmu, ketika semuanya sudah berakhir sejak dulu, Monster Senja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...