Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam.
Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah.
Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar.
Aku siap! Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.
Ku tau, dalam doamu ada sebait nama,
Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa.
Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu.
Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.
Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya.
Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan.
Kamu hanya ulang yang tak berjuang.
Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan.
Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan.
Dan itu menyakitkan, Tuan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu