Langsung ke konten utama

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. 
Krek
Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. 
"Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. 
Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirkan, dan diagnosa dokter kandunganku harus segera tindakan karena air ketuban yang mulai menyusut dan dapat membahayakan bayi dikandunganku. 
Aku dan kamu berusaha saling menguatkan, meski tidak ada sedikitpun tanda-tanda waktunya melahirkan. Kita optimis untuk melalui proses persalinan normal, apalagi aku. Aku mau melalui proses induksi yang katanya jauh lebih menyakitkan daripada proses alami. 
Tapi, mungkin Tuhan tau aku adalah Hamba-Nya yang lemah hehe. Disaat aku bersedia untuk induksi, diagnosa dokter turun lagi dan hasilnya aku mengalami preeklamsia; yang artinya sangat amat beresiko bagiku jika memaksa lahiran normal. Sampai pada akhirnya aku harus melewati persalinan dengan operasi caesar. 
"Aku sudah urus semuanya, aku pilih tindakan caesarnya yang paling bagus. Kamu jangan khawatir." Ucapnya lagi menenangkan. 
Mas, terima kasih. Tidak sedikitpun kamu menunjukkan sikap resah, karena kamu tau; istrimu ini akan menjadi manusia paling panik dan pemikir kalau melihat orang lain sedang ketar-ketir. Kamu menutupinya dengan banyak bahan candaan, sampai terkadang aku merasa candaanmu semakin monoton wkwk. 
Mas, terima kasih lagi. Kamu rela libur satu minggu untuk menemaniku, disaat kerjaan banyak dan tidak bisa ditinggal. 
***
Ternyata prosesnya cukup panjang ya, aku menahan lapar karena puasa, dan menikmati bagaimana rasanya dipasang kateter secara sadar, disuntik anti kejang yang panasnya seperti diguyur dari kepala hingga kaki, juga sakitnya lengan karna suntikan itu diberikan secara perlahan. Aku malah tertawa melihatmu berada di samping berusaha mengipasiku yang sedang kepanasan. 
Sampai pada akhirnya namaku dipanggil masuk ruang operasi. 
45 menit yang terasa hampa, hanya bisa mendengar para dokter dan perawat mengobrol, seolah mereka sedang bercengkrama. Padahal perutku ini sedang mereka belah untuk menyelamatkan bayi yang ada disana. 
Sampai pada akhirnya, aku bisa mendengar suara tangisan pertama putriku. Melengking, seolah tanda salam pada dunia barunya. 
Masya Allah, Nak. 
Tanpa tertahan, airmata meluncur dengan derasnya, kuucap hamdalah dan nama Tuhan berkali-kali, apalagi ketika salah satu perawat datang bersama putriku yang sudah dibersihkan dan dirawat.
Ternyata aku bisa, melewatinya sampai mendengar suara tangisan pertama anakku dan menjadi orang pertama yang mencium pipinya. Aku bisa. 
Tidak lama kemudian, setelah luka bekas sayatan dijahit. Dengan tubuh yang masih mati rasa, aku keluar dengan ranjang yang didorong oleh beberapa perawat. Ada kakak dan suaminya yang memberi selamat sembari mengucurkan airmata. 
Kini giliran kamu, Mas. Menghampiriku dengan mata yang berkaca-kaca. "Anak kita cantik, Dek." Ucapmu sembari mengecup keningku. Aku tau itu sebagai tanda terima kasih untuk apa yang telah kulalui, tanpa kamu katakan Mas. 

Perjuangan yang tidak akan pernah aku lupakan. Yang membuatku merasa bangga sebagai perempuan dan ibu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...