Langsung ke konten utama

Tentang sebuah perjalanan yang tidak mudah

Perjumpaan yang sering kali masih kurenungi. Mulai sejak kapan, sesingkat apa, sampai aku tersadar bahwa kamu benar-benar menjadi seorang imam yang berdiri selangkah didepanku, menuntunku sampai dirakaat terakhir dan salam. 
Momen yang paling kusukai, adalah; ketika selesai salam, kamu menatapku dalam sembari tersenyum, mengecup kening sepersekian detik dan bersamaku merapal doa-doa baik untuk kehidupan selanjutnya. 
Tuan, rasanya waktu cepat berlalu ya? Bahkan sebentar lagi, makmum-mu bukan hanya aku saja, melainkan sosok kecil yang nanti akan membuat hari-hari kita jauh lebih berwarna; tangisnya, tawanya, rengekannya. Ah, aku sangat ingin tau bagaimana sisi lain dari si Monster Senjaku. Ingin secepatnya melihat kamu merayu putrimu agar tak merajuk.
Tuan, sampai pada titik ini. Aku tak lagi menunduk atas apa yang telah terjadi di belakang, bahkan aku membusungkan dada, bukan berarti sombong, melainkan bangga. Bahwa apa yang pernah terjadi dulu, tidak ada apa-apanya dengan nikmat yang Tuhan berikan sekarang. 
Aku semakin yakin bahwa kehilangan, runtuh, dan hancurnya tubuhku dulu membuat Tuhan mengucurkan banyak nikmat yang kutengadahi sampai pada hari ini. Jika saja aku mengikuti sisi gelap logikaku, mungkin sekarang belum tentu aku berdiri disini, bernafas; menghirup udara yang masih segar ditengah polusi desa yang seolah kota ini. 
Mungkin sekarang belum tentu aku bertemu denganmu, Tuan. Dan menikmati hadirnya calon anak kita nanti. 
Hmmm hah (Ini suaraku saat menarik napas dan mengeluarkannya dengan lega). 
Semoga mereka dan kalian. Yang pernah atau sedang diposisiku ketika dulu, bisa diberi kekuatan lebih. Entah itu mental dan jiwanya. Berusahalah untuk tetap waras, meski banyak pohon tumbang didepan sana, meski jalanmu dipenuhi bongkahan batu kali yang besar. 
Semoga mereka dan kalian. Segera menemukan Tuhan yang sedang mengucuri nikmat-Nya. 
Kita semua bisa, asal tetap waras. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...