Perjumpaan yang sering kali masih kurenungi. Mulai sejak kapan, sesingkat apa, sampai aku tersadar bahwa kamu benar-benar menjadi seorang imam yang berdiri selangkah didepanku, menuntunku sampai dirakaat terakhir dan salam.
Momen yang paling kusukai, adalah; ketika selesai salam, kamu menatapku dalam sembari tersenyum, mengecup kening sepersekian detik dan bersamaku merapal doa-doa baik untuk kehidupan selanjutnya.
Tuan, rasanya waktu cepat berlalu ya? Bahkan sebentar lagi, makmum-mu bukan hanya aku saja, melainkan sosok kecil yang nanti akan membuat hari-hari kita jauh lebih berwarna; tangisnya, tawanya, rengekannya. Ah, aku sangat ingin tau bagaimana sisi lain dari si Monster Senjaku. Ingin secepatnya melihat kamu merayu putrimu agar tak merajuk.
Tuan, sampai pada titik ini. Aku tak lagi menunduk atas apa yang telah terjadi di belakang, bahkan aku membusungkan dada, bukan berarti sombong, melainkan bangga. Bahwa apa yang pernah terjadi dulu, tidak ada apa-apanya dengan nikmat yang Tuhan berikan sekarang.
Aku semakin yakin bahwa kehilangan, runtuh, dan hancurnya tubuhku dulu membuat Tuhan mengucurkan banyak nikmat yang kutengadahi sampai pada hari ini. Jika saja aku mengikuti sisi gelap logikaku, mungkin sekarang belum tentu aku berdiri disini, bernafas; menghirup udara yang masih segar ditengah polusi desa yang seolah kota ini.
Mungkin sekarang belum tentu aku bertemu denganmu, Tuan. Dan menikmati hadirnya calon anak kita nanti.
Hmmm hah (Ini suaraku saat menarik napas dan mengeluarkannya dengan lega).
Semoga mereka dan kalian. Yang pernah atau sedang diposisiku ketika dulu, bisa diberi kekuatan lebih. Entah itu mental dan jiwanya. Berusahalah untuk tetap waras, meski banyak pohon tumbang didepan sana, meski jalanmu dipenuhi bongkahan batu kali yang besar.
Semoga mereka dan kalian. Segera menemukan Tuhan yang sedang mengucuri nikmat-Nya.
Kita semua bisa, asal tetap waras.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu