Langsung ke konten utama

Temu yang membuatku bahagia sekaligus hancur kembali

Temu adalah obat, sekaligus juga pisau yang siap menyayat.
Dari kejauhan, aku melihatnya mengembangkan senyum. Saling merasa bahagia dan lega, setelah waktu dan keadaan menjauhkan kita. Namun aku melupakan sesuatu, bahwa selama itu aku sedang berusaha melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu bersama duniamu hidup bahagia. Dan aku, menjalani hari-hariku seperti biasanya; hidup tanpa kehadiranmu. 
Temu yang meruntuhkan seluruh pertahananku lagi. 
Aku yang akhirnya kembali lagi dititik awal; untuk melupakan, mengikhlaskan dan membiarkanmu kembali lagi menuju duniamu yang sesungguhnya. Persinggahan yang semakin mengerucut. Dan harusnya aku tidak lagi ada disana. 
Temu yang kali ini tak pernah kuduga akan berakhir secepat itu.
Begitu cepat, namun berhasil meraup semua harapan. Harapan yang sudah kukubur sejak lama, muncul kembali ke permukaan. Tapi lihatlah, tidak ada yang bisa didapatkan hanya dengan berharap, dan aku- tidak dapat melakukan apapun. Karna kita tetap tidak pernah ada dalam kamus bahagia hidup ini.
Temu yang kamu semogakan akan terjadi lagi.
Apa mungkin? Apa aku harus berkali-kali lagi kembali ketitik awal tiap temu itu terjadi. Apa aku akan bergelut dengan lelah yang tak cukup dua atau tiga kali. Aku telah menghitung didinding yang kini sudah roboh, betapa banyaknya aku menunggu dan betapa seringnya kamu meninggalkan.

Temu yang membuatku bahagia sekaligus hancur kembali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...