Ada ketakutan, yang membuatku enggan membuka lebar sayap untukmu terbang bersamaku.
Sayap yang sering kali kamu lukai, ketika telah terbang kelapis awan. Yang membuatku kembali jatuh, untuk kesekian kali.
Ketika aku sedang mengobati luka pada sayapku, aku mengajak bicara pada sisi diriku yang lain, memberi cermin dan membuka mataku; bahwa sudah berjuta kali aku sembuh oleh sayap yang terluka karenanya, dan berjuta kali juga aku mengulang luka yang sama dengan membawamu terbang bersama.
Seolah bukan hanya keledai yang jatuh dilubang sama berulang kali, tapi aku juga.
Meskipun aku takut untuk terbang lagi denganmu, tapi aku masih mengepakkan sayap dan mulai membawamu kelangit, dimana itu tempat yang paling membuatmu bahagia. Kamu bersorak sorai, dan semakin mengeratkan pelukan. Mengecup keningku dengan kehangatan. Lalu berbisik, bahwa kita sedang bersama, dan berbahagia.
Aku senang mendengarnya, tapi lagi-lagi aku ketakutan.
Karena pelukan, kecupan dan bisikan itu akan segera hilang bersama kamu yang terbang sendiri dengan sayapmu, dan mematahkan sayapku.
Kamu yang selalu datang untuk pergi.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu