Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Untuk apa ada aku

Pelukmu masih hangat, Namun semakin kemari, hatiku semakin sakit. Untuk apa memiliki sebuah kehangatan, sedang tak sepenuhnya memiliki pelukan itu. Yang ku takut adalah ketika kamu menatapku dalam,  Harusnya aku terpukau, terpanah oleh tatapan itu, Namun yang ku takut adalah kata-kata yang nanti akan kamu ucapkan, Ucapan yang membuatku lagi-lagi berantakan, dan menyadarkan diriku sebagai pecundang. Kamu pamit. Aku akan berbagi pelukan dengannya, seseorang yang sesungguhnya memiliki pelukanmu, dirimu seutuhnya. Dan kenyataan yang ada, bukan aku sesungguhnya yang kamu pilih meskipun nanti kembali. Tidak ada aku dalam masa depanmu, Tidak ada aku dalam impian besarmu, Tidak ada aku dalam harapan-harapanmu, Tidak ada aku dalam rapalan doamu, Tidak ada. Dan tidak mungkin ada. Ketika seseorang telah memilikimu sepenuhnya. Lalu untuk apa ada aku?  Untuk apa pelukanmu masih menghangatkan tubuhku, Untuk apa kecupanmu masih menghapus lelahku, Untuk apa waktumu masih diberikan padaku yang...

Aku telah menyerah

Bukannya sudah tak nyaman, namun aku sedang menahan.  Membiarkan ego sedikit mengalahkan perasaan. Sekat yang terlalu tinggi, membuatku terduduk lemas dan menyerah. Yah, aku tlah menyerah, dari semua yang kita lalui, aku tetap bukanlah tujuanmu. Adakalanya hati ini menuntut untuk meminta kabar, tapi apa akan berjalan terus menerus seperti ini? Jatuh berkali-kali untuk menggapaimu. Sungguh, jika aku dapat melihat dengan kasat mata hati ini, mungkin ia sudah penuh dengan bekas luka sayatan. Selalu bertahan, dan berjuang. Namun tetap tak pernah berujung. Aku sama sekali tak pernah menyalahkanmu, siapapun berhak merasakan nyaman. Ya, begitu pun aku dan kamu yang sudah terlanjur sangat jauh pada rasa itu.  Jika kamu tak mampu, maka aku yang akan memulainya. Memulai untuk mengakhiri rasa yang seharusnya tak pernah ada. Kamu disana bisa tanpaku, dan disini aku pun berusaha tanpamu. Berbahagialah, diriku.