Disisi lain aku melihatnya, Seorang yang dikatakan monster, namun bagiku ia setenang senja. Itu mengapa ku menyebutnya monster senja. Seolah ada magis yang menarikku untuk terbelenggu, Dalam dekapannya, tercurah mohonan afiat, atas apa-apa yang menghambat, Sempat aku menarik diri dan berlarat-larat, Namun takdir menuntunku ke hulu, dan aku kembali terjaga. Aku sadar, ternyata yang membuatku bersuka cita bukanlah aram-temaram, Namun bersemayam. Selamat untuk diriku, ia telah menjadi milikku seutuhnya. Dan tidak seharusnya aku menikam lalu hilang. Ia berhak berdamai dengan kekalutannya, untuk mencintaiku.
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.