Disisi lain aku
melihatnya,
Seorang yang dikatakan
monster, namun bagiku ia setenang senja.
Itu mengapa ku
menyebutnya monster senja.
Seolah ada magis
yang menarikku untuk terbelenggu,
Dalam dekapannya,
tercurah mohonan afiat, atas apa-apa yang menghambat,
Sempat aku menarik
diri dan berlarat-larat,
Namun takdir menuntunku
ke hulu, dan aku kembali terjaga.
Aku sadar, ternyata
yang membuatku bersuka cita bukanlah aram-temaram,
Namun bersemayam.
Selamat untuk
diriku, ia telah menjadi milikku seutuhnya.
Dan tidak seharusnya
aku menikam lalu hilang.
Ia berhak berdamai
dengan kekalutannya, untuk mencintaiku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu