Ketika aku yang sedang tertatih, dan tanpa diduga sebuah uluran tangan membawaku untuk lebih tegap berjalan, merangkulku sembari menunjuk kedepan; dimana kamu membingkai semua harapan dengan begitu indah disana. Aku yang mati rasa, berusaha untuk kembali menata. Untuk apa? Untuk meyakinkan diri bahwa; siapapun, termasuk aku. Adalah Hamba Allah yang memiliki jodoh, meski masih dibalut oleh rahasia. Aku menyambut uluran tanganmu, menatap kedepan dan meyakini bahwa semua harapan itu akan terjadi sebentar lagi. Aku akan menjadi perempuan terbahagia bisa bersama orang yang kucintai. Bahkan seolah punya banyak waktu, hingga aku bisa berkhayal hidup berdua denganmu, menikmatinya sembari berproses, beradu mesra dengan kakakku, saudara sepupu, dan 'mereka'. Bahkan planning itu sudah tersusun rapi, meski tidak diatas kertas. Tapi ternyata waktuku cukup terbuang hanya untuk berkhayal, tidak untuk memprioritaskanmu. Aku terlalu sering mengabaikanmu, hingga semua ekspektasimu padaku hanc...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.