Ketika aku yang sedang tertatih, dan tanpa diduga sebuah uluran tangan membawaku untuk lebih tegap berjalan, merangkulku sembari menunjuk kedepan; dimana kamu membingkai semua harapan dengan begitu indah disana.
Aku yang mati rasa, berusaha untuk kembali menata. Untuk apa? Untuk meyakinkan diri bahwa; siapapun, termasuk aku. Adalah Hamba Allah yang memiliki jodoh, meski masih dibalut oleh rahasia.
Aku menyambut uluran tanganmu, menatap kedepan dan meyakini bahwa semua harapan itu akan terjadi sebentar lagi. Aku akan menjadi perempuan terbahagia bisa bersama orang yang kucintai. Bahkan seolah punya banyak waktu, hingga aku bisa berkhayal hidup berdua denganmu, menikmatinya sembari berproses, beradu mesra dengan kakakku, saudara sepupu, dan 'mereka'. Bahkan planning itu sudah tersusun rapi, meski tidak diatas kertas.
Tapi ternyata waktuku cukup terbuang hanya untuk berkhayal, tidak untuk memprioritaskanmu. Aku terlalu sering mengabaikanmu, hingga semua ekspektasimu padaku hancur berantakan. Aku tidak tau, aku yang bodoh atau memang aku masih ada difase mati rasa.
Pernah merasa sangat egois? ya, mungkin sekarang aku juga sedang merasakannya, karena didalam lubuk hati yang paling dalam, ternyata penyesalan itu tidak serta merta aku akui, masih terbesit pembelaan diri; bahwa ini bukan hanya salahku. Hanya saja keadaan yang membuatku seperti ini.
Tapi kenapa aku masih membela diri? Toh aku sendiri hanya diam dan selalu berkata "iya", "gapapa".
Kamu mungkin akan setuju dengan pengakuanku jika aku masih "mati rasa" saat melihat beberapa updateku di sosial media akhir-akhir ini, terlihat sangat aktif dan baik-baik saja, bahkan terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Namun aku tidak mau mengingatkanmu satu hal. Apa itu? Sudahlah.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu