Langsung ke konten utama

Bodoh atau mati rasa?

 Ketika aku yang sedang tertatih, dan tanpa diduga sebuah uluran tangan membawaku untuk lebih tegap berjalan, merangkulku sembari menunjuk kedepan; dimana kamu membingkai semua harapan dengan begitu indah disana. 

Aku yang mati rasa, berusaha untuk kembali menata. Untuk apa? Untuk meyakinkan diri bahwa; siapapun, termasuk aku. Adalah Hamba Allah yang memiliki jodoh, meski masih dibalut oleh rahasia.

Aku menyambut uluran tanganmu, menatap kedepan dan meyakini bahwa semua harapan itu akan terjadi sebentar lagi. Aku akan menjadi perempuan terbahagia bisa bersama orang yang kucintai. Bahkan seolah punya banyak waktu, hingga aku bisa berkhayal hidup berdua denganmu, menikmatinya sembari berproses, beradu mesra dengan kakakku, saudara sepupu, dan 'mereka'. Bahkan planning itu sudah tersusun rapi, meski tidak diatas kertas.

Tapi ternyata waktuku cukup terbuang hanya untuk berkhayal, tidak untuk memprioritaskanmu. Aku terlalu sering mengabaikanmu, hingga semua ekspektasimu padaku hancur berantakan. Aku tidak tau, aku yang bodoh atau memang aku masih ada difase mati rasa.

Pernah merasa sangat egois? ya, mungkin sekarang aku juga sedang merasakannya, karena didalam lubuk hati yang paling dalam, ternyata penyesalan itu tidak serta merta aku akui, masih terbesit pembelaan diri; bahwa ini bukan hanya salahku. Hanya saja keadaan yang membuatku seperti ini.

Tapi kenapa aku masih membela diri? Toh aku sendiri hanya diam dan selalu berkata "iya", "gapapa".

Kamu mungkin akan setuju dengan pengakuanku jika aku masih "mati rasa" saat melihat beberapa updateku di sosial media akhir-akhir ini, terlihat sangat aktif dan baik-baik saja, bahkan terlihat lebih ceria dari sebelumnya. Namun aku tidak mau mengingatkanmu satu hal. Apa itu? Sudahlah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...