24 Menit Aku mengingat benar waktu singkat itu, Entah kenapa aku bisa berpikir untuk mendengar suaranya. Suara yang jujur sangat-sangat kurindukan. Suaranya yang cempreng dan khas membuatku sangat mengenali nya, bahkan saat dia banyak bicara dan bertanya. Seakan kita lama tak pernah berjumpa, hingga banyak hal yang terlewatkan, sesekali dia mengoyak kesadaranku bahwa aku membutuhkannya untuk bercerita. Namun bukan lagi hatiku yang berkata sekarang, mungkin hatiku masih menginginkan kerinduanku tuntas, meski itu tidak mungkin terjadi, karena rindu ini tidak pernah berujung. Tapi, logikaku ikut bicara, bahkan mengambil alih hatiku yang sesungguhnya masih ingin mendengar suaranya. Logikaku mengingatkan bahwa ada benteng besar yang tidak bisa kutembus, dan ada jarak tak kasat mata yang menghancurkan kita, begitupun pada hatiku sendiri. Seketika ku diam, meski dia mencoba bertanya lagi. Aku bisa membacanya, betapa rindunya sama denganku. Namun, aku harus mengingatkannya lagi pada apa ...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.