24 Menit
Aku mengingat benar waktu singkat itu,
Entah kenapa aku bisa berpikir untuk mendengar suaranya. Suara yang jujur sangat-sangat kurindukan.
Suaranya yang cempreng dan khas membuatku sangat mengenali nya, bahkan saat dia banyak bicara dan bertanya. Seakan kita lama tak pernah berjumpa, hingga banyak hal yang terlewatkan, sesekali dia mengoyak kesadaranku bahwa aku membutuhkannya untuk bercerita.
Namun bukan lagi hatiku yang berkata sekarang, mungkin hatiku masih menginginkan kerinduanku tuntas, meski itu tidak mungkin terjadi, karena rindu ini tidak pernah berujung. Tapi, logikaku ikut bicara, bahkan mengambil alih hatiku yang sesungguhnya masih ingin mendengar suaranya.
Logikaku mengingatkan bahwa ada benteng besar yang tidak bisa kutembus, dan ada jarak tak kasat mata yang menghancurkan kita, begitupun pada hatiku sendiri.
Seketika ku diam, meski dia mencoba bertanya lagi. Aku bisa membacanya, betapa rindunya sama denganku. Namun, aku harus mengingatkannya lagi pada apa yang sudah terjadi pada kita. Dimana nama Monster Senja tidak ada lagi meski masih sangat membekas.
Jangan pernah menganggap ku lupa padamu, tentangmu dan bagaimanakah kamu. Karena aku tidak pernah bisa melupakanmu, bahkan lukanya juga. Biarkan aku mencintaimu tanpa bersyarat, tanpa kamu disini, ataupun suaramu menemaniku. Karena mungkin, aku ditakdirkan untuk hanya melihatmu, tidak memilikimu.
Sesungguhnya Monster Senjamu tidak akan hilang, meski sebenarnya aku sendiri yang menghilangkan dari ingatanmu. Karena baru kali ini, ada seorang perempuan yang tingkat ke absurdannya tinggi, bahkan bisa menamaiku dengan sebutan Monster Senja. Aku ingat betul alasanmu; Monster itu seram, tapi senja itu menenangkan, menganggap ku seram dan menenangkan sekaligus adalah hal yang aneh, bahkan hingga sekarang aku tidak mengerti. Tapi, semua itu yang membuatku merindukannya, hingga melakukan hal yang tak sebaiknya kulakukan.
Maafkan aku, perempuan yang kurindukan suaranya. Karena aku masih merindukanmu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu