24 Menit
Waktu yang singkat, namun bisa kuingat jelas. Bagaimana suara baritonmu bercerita, dan kumendengarnya dengan seksama. Seperti sebuah rintik hujan di musim kemarau, yang membuat semua orang merindukannya.
Yah, suara yang telah kurindukan, bahkan tak terpikirkan bisa mendengarnya lagi, menjadi suara terspesial entah hingga kapan, namun aku merasakan kenyamanan olehnya.
Lama aku tak menulis, karena hari-hariku pun tak ada kamu, Monster Senjaku yang dulu. Ingatkah betapa banyak bait hingga baris tulisan tentangmu?
Entah mengapa, mengenai dirimu selalu ada yang ingin kuungkapkan. Bahkan kali ini, mendengar suaramu saja aku tak ingin terlelap.
Waktu yang singkat itu, terasa tak cukup, namun aku bersyukur. Setidaknya pemilik suara itu menyapaku dibalik suaranya. Mungkin, ini hanya terjadi sekali saja, tapi akan kuingat bagaimana dan seperti apa ceritamu kala itu. Cerita yang menyadarkan kita, betapa sudah jauhnya kita. Dan pula membuktikan bahwa jarak benar-benar terbentang luas diantara kita.
Aku tidak akan melupakannya, bagaimana caramu tertawa dan cekikikan. Sengaja, kubuat seperti itu. Agar aku bisa menguatkan hati dengan bahagiamu lewat tawa. Karena mungkin, kamu tak ingin hal ini terjadi, dimana kita bertemu kembali dalam suatu titik meski hanya dalam saling balas suara.
Aku tidak pernah bisa menilik hatimu, jika bisa mungkin aku tidak sekuat sekarang, bisa saja aku seketika rapuh serapuh-rapuhnya. Hatimu sangatlah luas, Monster Senja. Aku mengagumimu, dari yang tak bisa kamu rasakan. Andai kamu tau itu.
Aku pernah berpikir jika suaramu bisa kudengar lagi, tapi sepertinya itu menjadi mustahil dengan apa yang terjadi sekarang, jarak yang diciptakan oleh keadaan seakan kamu dukung pula.
Terimakasih, telah mengobati rinduku melalui suaramu, Monster Senjaku.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu