Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Apa definisi Rindu?

Rindu ini tidak berujung. Seperti halnya bintang yang selalu merindukan bulan, meski mereka selalu bertemu di tiap malam. Apakah mungkin bisa aku hentikan, jika caramu berbicara masih jelas kuingat. Dan membuatku semakin rindu. Rindu macam apa, yang muatan nya melebihi berton-ton besi, dan berhasil memenuhi pikiranku. Memperjelas bagaimana aku tidak bisa tanpa kehadiranmu. Definisi Rindu itu apa sebenarnya? Sampai seseorang yang merasakannya terlihat gila dan tidak waras hanya untuk mencari kabar. Kabar yang meski sangat sepele dimata orang lain, namun sangat berarti bagi orang yang merindu. Merindukanmu, Seperti langit pada bumi, yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan, namun enggan untuk beralih.

Kamu, sosok yang membuatku nyaman

Kamu yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali. Bukan karena kamu menyakitiku, tapi karena keadaan yang membuatku harus sadar bahwa sayap yang kukepakkan untuk menggapai mu sedang terluka dan tidak mampu untuk terbang. Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini. Karena Kamu, selalu menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, atau bahkan menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut. Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, sebab ingin kubuat senyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu. Aku nyaman sekali, hingga aku terlampau egois untuk bisa terus bersamamu. Ingatkah kamu? Saat pada akhirnya kita memutuskan untuk bertukar pikiran. ...

Pundak ternyaman untuk Perempuanku

Perempuanku , yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali. Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini. Karena Kamu, masih menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut. Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, ingin kubuat se nyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu. Perempuanku, aku tidak pernah lupa ada batas yang tak kasat mata, yang tidak bisa menyatukan kita hingga sekarang. Menjadikanku hanya secuil cerita dihari dan hatimu. Terkadang aku berpikir untuk mundur. Tapi mundur atas apa? Jika pada dasarnya kita tidak pernah memiliki hubungan lebih dari teman. Mundur dari menjadi temanmu? ...