Langsung ke konten utama

Kamu, sosok yang membuatku nyaman

Kamu yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali. Bukan karena kamu menyakitiku, tapi karena keadaan yang membuatku harus sadar bahwa sayap yang kukepakkan untuk menggapai mu sedang terluka dan tidak mampu untuk terbang.
Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini.
Karena Kamu, selalu menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, atau bahkan menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut.
Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, sebab ingin kubuat senyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu. Aku nyaman sekali, hingga aku terlampau egois untuk bisa terus bersamamu.

Ingatkah kamu? Saat pada akhirnya kita memutuskan untuk bertukar pikiran. Menjabarkan pertemuan kita yang diluar logika, bagaimana pertama kalinya kita saling menemukan, lalu mulai mencari dan menerka pertemuan berikutnya, kemudian peristiwa yang akhirnya benar-benar mempertemukan kita pada waktu yang cukup lama. Kamu pasti sangat mengingatnya, pada saat aku menjabarkan kejadian demi kejadian yang akhirnya kamu sadari bahwa aku telah mencatat nya dalam memori sebagai pertemuan yang istimewa. Ku kira hanya aku.

Aku terlalu takut untuk jujur, aku terlalu naif mengaku bahwa aku sama nyamannya denganmu. Apalagi mendengar ceritamu, banyaknya perempuan yang nyaman bersamamu seperti halnya aku, namun kamu sendiri tidak merasakan. Aku hanya takut akan hal itu, aku takut bahwa hanya aku yang terlalu berharap kamu merasakan apa yang aku rasakan.

Kamu, sosok yang memberiku kenyamanan hingga sekarang, entah sampai kapan. Diatas kenyataan bahwa kita telah memiliki ruang sendiri-sendiri, dan kita hanya tersesat pada ruang lain yang mempertemukan kita, yang membuat kita nyaman dan enggan pergi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...