Perempuanku, yang membuatku terbang sekaligus jatuh berkali-kali.
Entah untuk berapa kalinya aku berusaha menormalkan perasaanku, bersikap biasa saja setiap kamu mulai menyapaku, namun yang aku rasakan berbanding terbalik dengan alibiku selama ini.
Karena Kamu, masih menjadi alasanku bersemangat menjalani hari. Menyisakan waktu untuk sekedar membalas pesan singkatmu, menahan tawa ketika kamu mulai mengujar kata-kata yang menggelikan perut.
Karena Kamu pula, tempat ternyamanku setiap bertemu. Pundakku yang jadi sandaranmu berusaha kuelakkan dari rasa lelah, ingin kubuat se nyaman mungkin untukmu, agar kamu pun menyadari bahwa aku juga nyaman setiap bersamamu.
Perempuanku, aku tidak pernah lupa ada batas yang tak kasat mata, yang tidak bisa menyatukan kita hingga sekarang. Menjadikanku hanya secuil cerita dihari dan hatimu. Terkadang aku berpikir untuk mundur. Tapi mundur atas apa? Jika pada dasarnya kita tidak pernah memiliki hubungan lebih dari teman. Mundur dari menjadi temanmu? Itu tidak mungkin kulakukan. Karena hanya dengan menjadi temanmu, aku bisa tau keadaanmu, aku bisa mendengar semua ceritamu tanpa sedikitpun ada yang terlewatkan.
Aneh bukan? Aku ingin mundur, tapi aku tidak mau kehilangan kabar darimu.
Perempuanku, perlu kamu tau, mungkin kamu sudah tau, tapi aku ingin mengingatkanmu lagi. Bagaimana pertama kalinya aku menemukan mu, lalu mulai mencari dan menerka pertemuan berikutnya, kemudian peristiwa yang akhirnya benar-benar mempertemukan kita pada waktu yang cukup lama. Kamu pasti sangat mengingatnya, pada saat aku menjabarkan kejadian demi kejadian yang akhirnya kamu sadari bahwa aku telah mencatat nya dalam memori sebagai pertemuan teristimewa dalam hidupku.
Kamu, perempuan istimewa sejak pertama kali bertemu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu