Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Tunggu Menunggu

Aku terbang, saat mendengar kejujuranmu. Salahku memang, membuatmu harus menunggu kabar dariku. Tanpa kutau, sampai kamu menjadi uring-uringan, kesal dengan sekitarmu, mencaci yang sebenarnya sepele. Yah, ku baru tau kegusaranmu setelah kamu bercerita dengan wajah yang masih enggan melihatku. Tak apa, memang salahku. Aku balik bercerita, aku pun menunggumu. Saat kita sudah bertemu, tapi ternyata kamu enggan untuk melihatku. Sakit sebenarnya. Tapi sekali lagi memang salahku. Aku membelikan makanan kesukaanmu, menunggumu ditempat kita biasa berdua, sampai ponselku hampir saja mati karena batrai yang lupa ku isi. Aku takut tidak bisa mengabarimu, bahwa aku disini, menunggumu dengan makanan kesukaanmu. Kemudian kamu datang, tanpa kuketahui. Dengan wajah yang masih enggan melihatku, kamu berkata jujur. "Bagaimana caranya aku bisa luluh seperti ini, saat aku benar-benar kesal padamu? Dua hal terbalik yang aku rasakan sekaligus." Aku tersenyum. Tidak bisa menahannya lagi. Ka...

Sebentar, tidak untuk sandar

Aku datang menjemput luka, Menemuimu dengannya untuk bertegur sapa. Persepsiku mungkin tak akan seberapa, Namun ternyata aku benar-benar sedang terluka. Kamu tertawa bersamanya, Seakan tawamu bersamaku sudah tak bernyawa. Sesaknya mungkin tak akan seberapa, Tapi goresannya membuat semua porak poranda. Ini tidak adil. Dan aku terlihat egois. Aku selalu memintamu untuk datang, Ketika seharusnya kamu pulang. Aku yang menahanmu, Untuk perih dihatinya ketika menunggumu. Salahkah? Jika aku memintamu menetap, sebentar. Karena aku tau, dia lah satu-satunya tempatmu sandar. Aku, ombak yang menerjangmu, Menghalangimu untuk menepi kebahu pantai. Aku, duri dijalanmu, Menahanmu untuk kembali memulai.