Aku terbang, saat mendengar kejujuranmu.
Salahku memang, membuatmu harus menunggu kabar dariku. Tanpa kutau, sampai kamu menjadi uring-uringan, kesal dengan sekitarmu, mencaci yang sebenarnya sepele.
Yah, ku baru tau kegusaranmu setelah kamu bercerita dengan wajah yang masih enggan melihatku.
Tak apa, memang salahku.
Aku balik bercerita, aku pun menunggumu. Saat kita sudah bertemu, tapi ternyata kamu enggan untuk melihatku. Sakit sebenarnya. Tapi sekali lagi memang salahku.
Aku membelikan makanan kesukaanmu, menunggumu ditempat kita biasa berdua, sampai ponselku hampir saja mati karena batrai yang lupa ku isi. Aku takut tidak bisa mengabarimu, bahwa aku disini, menunggumu dengan makanan kesukaanmu.
Kemudian kamu datang, tanpa kuketahui. Dengan wajah yang masih enggan melihatku, kamu berkata jujur.
"Bagaimana caranya aku bisa luluh seperti ini, saat aku benar-benar kesal padamu? Dua hal terbalik yang aku rasakan sekaligus."
Aku tersenyum. Tidak bisa menahannya lagi. Kata-kata itu membuatku terbang. Seakan aku lah yang jadi dua hal berbeda itu menjadi satu, dan membuatmu bingung seperti ini.
"Dan kamu tau? Saat aku malas baca pesan darimu, tapi melihat pesan terakhir, aku jadi resah dan mulai mencarimu. Usahaku untuk tidak peduli ternyata gagal. Aku masih membutuhkanmu."
Tidak, bukan hanya kamu yang membutuhkanku, tapi aku juga. Bahkan aku mungkin lebih dari kamu yang setiap hari ingin selalu bertemu.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu