Aku datang menjemput luka,
Menemuimu dengannya untuk bertegur sapa.
Persepsiku mungkin tak akan seberapa,
Namun ternyata aku benar-benar sedang terluka.
Kamu tertawa bersamanya,
Seakan tawamu bersamaku sudah tak bernyawa.
Sesaknya mungkin tak akan seberapa,
Tapi goresannya membuat semua porak poranda.
Ini tidak adil.
Dan aku terlihat egois.
Aku selalu memintamu untuk datang,
Ketika seharusnya kamu pulang.
Aku yang menahanmu,
Untuk perih dihatinya ketika menunggumu.
Salahkah?
Jika aku memintamu menetap, sebentar.
Karena aku tau, dia lah satu-satunya tempatmu sandar.
Aku, ombak yang menerjangmu,
Menghalangimu untuk menepi kebahu pantai.
Aku, duri dijalanmu,
Menahanmu untuk kembali memulai.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu