Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini

Baca sebelumnya : Seperti hujan yang menghujamkan diri ke bumi Rindu ini terus menggila, sampai tak pernah habis kumelewati persimpangan yang sebenarnya bukan jalan utama. Jalan pulangku semakin jauh akhirnya. Ku masih ingat persimpangan dan setiap jalannya, berharap melihatmu meski sekilas. Mengapa kumasih merindumu? Menampik keputusanmu untuk saling mengakhiri. Terakhir kali, aku melihatmu, kurasa kekhawatiranmu yang dulu kembali waktu itu. Bahkan jaket yang kusimpan di lemari adalah buktinya. Aku tak terlalu berharap kamu mau membawaku pergi lagi, menguarkan rindu bersamaku, mengembangkan senyumku lagi yang sudah hilang sejak kamu memutuskan untuk kita saling berjalan dijalan masing-masing. Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini. Terlalu berat dan jujur aku tak kuat. Setelah usahaku yang berkali-kali melewati persimpangan,  untuk sengaja melihatmu tak kunjung berhasil. Aku melihat kontak whatsappku, menyusuri setiap pesan dan tepa...

Apakah rindu yang jadi pelakunya?

Aku hendak pergi, tapi hati tak mau diajak berkompromi. Sejak kapan aku menggilaimu seperti ini? Sampai rela menghabiskan waktu hanya untuk menanti yang tak pasti. Rindu yang jadi pelakunya, namun kutau bukan dia, melainkan rasa. Andai kamu tau tuan pembuat rindu, kamu berhasil melancarkan aksimu, hingga tertatih pun  kulakukan untuk menemuimu. Kamu berhasil membuatku merasakan candu karena rindu, dan itu penuh deru, karena tak semudah itu menguarkan yang tabu. Mengapa kamu berlama-lama disana? Apakah kamu tega membuatku menunggu? Apakah kamu mau melihatku iri dan akhirnya menggerutu?