Langsung ke konten utama

Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini

Baca sebelumnya : Seperti hujan yang menghujamkan diri ke bumi

Rindu ini terus menggila, sampai tak pernah habis kumelewati persimpangan yang sebenarnya bukan jalan utama. Jalan pulangku semakin jauh akhirnya.
Ku masih ingat persimpangan dan setiap jalannya, berharap melihatmu meski sekilas.
Mengapa kumasih merindumu? Menampik keputusanmu untuk saling mengakhiri.
Terakhir kali, aku melihatmu, kurasa kekhawatiranmu yang dulu kembali waktu itu. Bahkan jaket yang kusimpan di lemari adalah buktinya.
Aku tak terlalu berharap kamu mau membawaku pergi lagi, menguarkan rindu bersamaku, mengembangkan senyumku lagi yang sudah hilang sejak kamu memutuskan untuk kita saling berjalan dijalan masing-masing.
Aku hanya berharap bisa melihatmu, karena aku kehabisan cara menghapus rindu ini. Terlalu berat dan jujur aku tak kuat.

Setelah usahaku yang berkali-kali melewati persimpangan,  untuk sengaja melihatmu tak kunjung berhasil. Aku melihat kontak whatsappku, menyusuri setiap pesan dan tepat paling bawah ada pesan terakhir darimu.
Pesan itu masih sangat manis, kita berteman waktu itu. Kita baik-baik saja. Sebagai bukti setelah semua sakit yang kuciptakan untukmu, kamu masih bisa bersikap baik padaku, mau menerimaku sebagai teman yang harusnya sudah dilupakan.
Mengapa aku dipertemukan oleh laki-laki sebaikmu, Monster Senja? Yang kubalas menyakitkan, tak pernah bisa membuatmu bahagia sejak dulu.

Aku berpikir berulang kali, kembali memikirkan resiko yang terjadi nanti. Apakah aku akan bisa menghilangkan rindu ini, atau semakin menggila. Dan, resiko atas balasan pesanmu, apakah kamu masih sama seperti dulu? Reaksimu membaca pesanku.

"Hai." Dan bodohnya, aku menekan tombol sent. Mengapa jantungku jadi degdegan, hatiku waswas, dan tubuhku panas dingin. Aku tidak bisa menebak bagaimana jawabannya.

Dulu, untuk mengirim pesan itu adalah hal biasa. Bahkan aku tidak khawatir mengirim pesan lagi hingga puluhan kali, karena aku tau kamu jarang melihat ponsel kalau tidak karena ku. Akh, aku masih mengingatnya, hal sekecil itu kamu lakukan agar tak membuatku menunggu.

Lama.

Sudah kuduga, sama seperti dulu kamu jarang membuka ponsel, apalagi aplikasi whatsapp, kalau tidak diwaktu jam kerja saja.

Tapi tiba-tiba pandangan ku nyalang ketika status online muncul, jantungku semakin degdegan. Tapi centang dua tak kunjung berwarna biru.

Aku lupa. Kita sudah saling meninggalkan. Kita sudah saling melupakan. Kita sudah saling merelakan. Tapi, aku tak pernah melakukannya selama ini.
Bagaimana bisa jika rindu terus menghantui? Ini tak lagi bisa dikompromi.

Aku tak apa. Biarkan pesan whatsappku. Jangan dibalas. Aku menghargai usahamu meninggalkanku, melupakanku, merelakanku. Tapi hargai juga rinduku. Aku tak bisa membuangnya cuma-cuma.

Sebelum keluar dari aplikasi pesan tersebut, aku terhenyak karena centang biru ada dichat kita.

"Iya?" Pesan singkat yang membuatku semakin rindu ternyata.

Aku tak tau harus menjawab apa, bilang rindu adalah hal yang tabu, akan kumaki diriku sendiri jika itu terjadi. Tapi jika hanya menanyai kabarnya, adalah basa-basi yang tidak disukainya, ku tau itu. Jadi aku harus bagaimana?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...