Aku hendak pergi, tapi hati tak mau diajak berkompromi.
Sejak kapan aku menggilaimu seperti ini?
Sampai rela menghabiskan waktu hanya untuk menanti yang tak pasti.
Rindu yang jadi pelakunya, namun kutau bukan dia, melainkan rasa.
Andai kamu tau tuan pembuat rindu, kamu berhasil melancarkan aksimu, hingga tertatih pun kulakukan untuk menemuimu.
Kamu berhasil membuatku merasakan candu karena rindu, dan itu penuh deru, karena tak semudah itu menguarkan yang tabu.
Mengapa kamu berlama-lama disana? Apakah kamu tega membuatku menunggu? Apakah kamu mau melihatku iri dan akhirnya menggerutu?
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu