Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Menyatukan alur yang berbeda

Masih beberapa judul untuk mejabarkanmu dalam tulisan, tapi kamu memilih menarik diri, entah untuk berapa lama, atau mungkin untuk selamanya. Baru saja aku menyusun rencana dalam daftar hari-hariku, yang disitu tercantum namamu, tapi sepertinya harus dicoret dengan paksa karena; kamu memilih pergi.  Aku memang bukanlah seperti perempuan yang kamu bayangkan, tidak punya hal yang kamu cari. Maka pantas kamu kecewa, dan memilih pergi. Menyatukan alur yang berbeda, ternyata membuat kita kesulitan. Dewasa ternyata belum mendewasakan kita. Dan salah ternyata mampu membuat kita saling menyalahkan. Keras kepala membuat kita enggan menguarkan keadaan. Serumit itu, sesuatu yang baru dimulai. Kamu yang selalu menarik diri belakang ini, membuatku sadar bahwa telah terciptanya jarak, sebagai peringatan agar aku tak terlalu berharap.  Aku memang bukanlah apa yang kamu inginkan. Jadi pantas kamu tinggalkan.

Mungkin aku masih mengenalmu sebatas nama

Belum sempat kita duduk berdua, menyeduh teh hangat dan berbagi cerita tentang yang sudah-sudah. Kini kita sudah menciptakan jarak, yang disebut keras kepala. Tidak ada yang mau mengalah, dan sedikit meredam amarah, Semua berubah karena kita belum mengenal sejauh arah yang akan kita langkah. Atau, aku lah yang terlalu berlebihan dalam menerka, bahwa kamu juga merasakan hal berbeda ketika kita bersama. Mungkin, aku masih cukup mengenalmu sebatas nama, tidak dengan perasaanmu yang sudah menganak ruah, dan tak terbatas hingga ribuan rasa. Kamu yang telah jauh menjelajah, menjamah tiap bagian rasa hingga mahir menyimpulkan mana yang sungguh-sungguh dan bercanda. Sedangkan aku?  Aku hanya perempuan yang memiliki sekat sendiri disebuah jalan, sebab sadar bahwa terlalu mudah untuk nyaman membuatku terlihat rapuh dan berantakan. Meski tak semahir kamu, Aku punya luka yang membuatku belajar untuk menghargai diriku sendiri, dan senyuman. Menarik diri, ketika seseorang mulai menja...