Langsung ke konten utama

Mungkin aku masih mengenalmu sebatas nama

Belum sempat kita duduk berdua, menyeduh teh hangat dan berbagi cerita tentang yang sudah-sudah.
Kini kita sudah menciptakan jarak, yang disebut keras kepala.
Tidak ada yang mau mengalah, dan sedikit meredam amarah,
Semua berubah karena kita belum mengenal sejauh arah yang akan kita langkah.
Atau, aku lah yang terlalu berlebihan dalam menerka, bahwa kamu juga merasakan hal berbeda ketika kita bersama.
Mungkin, aku masih cukup mengenalmu sebatas nama,
tidak dengan perasaanmu yang sudah menganak ruah, dan tak terbatas hingga ribuan rasa.
Kamu yang telah jauh menjelajah, menjamah tiap bagian rasa hingga mahir menyimpulkan mana yang sungguh-sungguh dan bercanda.

Sedangkan aku? 
Aku hanya perempuan yang memiliki sekat sendiri disebuah jalan, sebab sadar bahwa terlalu mudah untuk nyaman membuatku terlihat rapuh dan berantakan.
Meski tak semahir kamu,
Aku punya luka yang membuatku belajar untuk menghargai diriku sendiri, dan senyuman.
Menarik diri, ketika seseorang mulai menjatuhkanku pada rasa nyaman. Tanpa adanya kepastian.

Dan kini, aku sedang melindungi diriku sendiri, mengertilah.
Melunakkan kerasnya kepala dan memberimu tahu, sepertinya masih kupertimbangkan lagi. 
Banyak duka yang meremehkanku karena begitu mudahnya mengatakan maaf, meski saat itu bukan sepenuhnya aku bersalah. 

Ku akui bahwa kamu telah mulai menjatuhkanku pada rasa nyaman, namun aku sedang bersiap menarik diri jika kamu tak sungguh-sungguh.
Aku akan berusaha melihatmu tersenyum, sebagai seorang teman. Begitu kataku, ketika mengingat pertama kali kita bertukar pikiran. Menolak rasa, sedang nyaman berbalas pesan hingga lupa waktu telah lewat tengah malam.
Ingatan yang masih bisa dihitung dengan jari, telah disudahi hanya karena saling mementingkan diri sendiri.

Selamat malam, 
Semoga besok pagi kita dapat meluruhkan ego masing-masing dan menuju titik temu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...