Belum sempat kita duduk berdua, menyeduh teh hangat dan berbagi cerita tentang yang sudah-sudah.
Kini kita sudah menciptakan jarak, yang disebut keras kepala.
Tidak ada yang mau mengalah, dan sedikit meredam amarah,
Semua berubah karena kita belum mengenal sejauh arah yang akan kita langkah.
Atau, aku lah yang terlalu berlebihan dalam menerka, bahwa kamu juga merasakan hal berbeda ketika kita bersama.
Mungkin, aku masih cukup mengenalmu sebatas nama,
tidak dengan perasaanmu yang sudah menganak ruah, dan tak terbatas hingga ribuan rasa.
Kamu yang telah jauh menjelajah, menjamah tiap bagian rasa hingga mahir menyimpulkan mana yang sungguh-sungguh dan bercanda.
Sedangkan aku?
Aku hanya perempuan yang memiliki sekat sendiri disebuah jalan, sebab sadar bahwa terlalu mudah untuk nyaman membuatku terlihat rapuh dan berantakan.
Meski tak semahir kamu,
Aku punya luka yang membuatku belajar untuk menghargai diriku sendiri, dan senyuman.
Menarik diri, ketika seseorang mulai menjatuhkanku pada rasa nyaman. Tanpa adanya kepastian.
Dan kini, aku sedang melindungi diriku sendiri, mengertilah.
Melunakkan kerasnya kepala dan memberimu tahu, sepertinya masih kupertimbangkan lagi.
Banyak duka yang meremehkanku karena begitu mudahnya mengatakan maaf, meski saat itu bukan sepenuhnya aku bersalah.
Ku akui bahwa kamu telah mulai menjatuhkanku pada rasa nyaman, namun aku sedang bersiap menarik diri jika kamu tak sungguh-sungguh.
Aku akan berusaha melihatmu tersenyum, sebagai seorang teman. Begitu kataku, ketika mengingat pertama kali kita bertukar pikiran. Menolak rasa, sedang nyaman berbalas pesan hingga lupa waktu telah lewat tengah malam.
Ingatan yang masih bisa dihitung dengan jari, telah disudahi hanya karena saling mementingkan diri sendiri.
Selamat malam,
Semoga besok pagi kita dapat meluruhkan ego masing-masing dan menuju titik temu.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu