Masih tentangmu November, Mengingat betapa kuatnya aku hari itu, merias wajahku dengan senyum kebahagiaan, merangkul seolah tak terasa luka menancap semakin dalam seiring pelukan yang makin erat. Aku bangga pada diriku saat itu, mampu menatapnya tanpa mengeluarkan air mata, tanpa harus menuju pundaknya untuk tenang. Hari itu, aku menunjukkan pada dunia bahwa pecundang juga dapat bangkit. Hari-hari sebelum semua itu terjadi, aku menjadi pecandu pundaknya untuk mendapatkan ketenangan. Aku menjadi pagar untuknya pergi, aku menjadi tidak waras untuk menikmati setiap waktu bersama. Tapi pada kenyataannya, penginapan tetaplah bukan rumah tetap. Meskipun terus menahan, pada akhirnya tetap akan kulepaskan. Dan hari itu, aku dengan nyaliku yang tidak pernah tau seberapa besar, berani menemuinya, membawa senyum bahagia seolah aku bisa melakukan apapun tanpa harus bersamanya, membawa kenyataan juga bahwa aku telah menang sekaligus kalah. Entah apa yang dia rasakan, bertemu denganku, saling m...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.