Masih tentangmu November,
Mengingat betapa kuatnya aku hari itu, merias wajahku dengan senyum kebahagiaan, merangkul seolah tak terasa luka menancap semakin dalam seiring pelukan yang makin erat.
Aku bangga pada diriku saat itu, mampu menatapnya tanpa mengeluarkan air mata, tanpa harus menuju pundaknya untuk tenang.
Hari itu, aku menunjukkan pada dunia bahwa pecundang juga dapat bangkit.
Hari-hari sebelum semua itu terjadi, aku menjadi pecandu pundaknya untuk mendapatkan ketenangan. Aku menjadi pagar untuknya pergi, aku menjadi tidak waras untuk menikmati setiap waktu bersama.
Tapi pada kenyataannya, penginapan tetaplah bukan rumah tetap. Meskipun terus menahan, pada akhirnya tetap akan kulepaskan.
Dan hari itu, aku dengan nyaliku yang tidak pernah tau seberapa besar, berani menemuinya, membawa senyum bahagia seolah aku bisa melakukan apapun tanpa harus bersamanya, membawa kenyataan juga bahwa aku telah menang sekaligus kalah.
Entah apa yang dia rasakan, bertemu denganku, saling menatap, menjabat tangan, bahkan merangkul. Apakah rasa itu sama dengan yang kumiliki? Rasa yang sangat menyakitkan. Apakah kamu juga berpura-pura bahagia sepertiku hari itu?
Atau, kamu sudah melupakannya setelah beranjak dari penginapan dan kembali kerumah.
Aku tidak menyesali apapun untuk bertemu, mengenal dan menjalin hubungan dengannya. Aku bersyukur setidaknya pernah menjadi tempatnya bercerita, menuangkan muak pada rumah, menatap bola matanya yang indah, mendengar tawa dan candanya yang renyah, merasakan jemarinya yang mengusap puncak kepala, kecupan yang hangat, dan persinggahannya.
November, pergilah dengan damai, membawa luka yang berusaha kuabai.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu