Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2021

Hari ke-7 : Tanpa meminta orang lain mencintaiku

Rasanya lelah untuk mengulang lagi bercerita hal yang sama, dan lebih melelahkan ketika harus menyiapkan hati untuk kembali terluka atas respon mereka.  Tidak ada yang menyuruhku jujur, tidak ada yang memintaku untuk terus merangkai cerita agar mereka tau dan mengerti. Tapi, jujur adalah awal dari kata memulai yang sesungguhnya. Semua tidak akan berjalan baik-baik saja, jika ada setitik kebohongan.  Ini tidak seberapa, aku harusnya sudah mulai terbiasa, dan sebaiknya aku mencari kosakata yang lebih baik agar mereka mengerti tanpa aku menjelaskan lebih detail, atau mungkin lebih baik aku tidak membuka pintu saja? Tidak menerima tamu satupun, sepertinya lebih baik untuk mentalku ya? Ternyata aku masih belum siap untuk apa-apa yang akan menyakiti hatiku, aku masih ingin menikmati perjalanan ini meski tidak pernah tau akan berujung dimana. Aku masih ingin mencintai diriku sendiri, tanpa meminta orang lain mencintaiku. Berbahagialah, untuk mereka yang berbalik setelah mendengar cer...

Hari ke-6 : Dia cinta monyetku

Cinta monyet. Pasalnya cinta itu sering terjadi dimasa SMP-SMA. Hmm benar.  Dan cinta monyetku pertama kali di SMA, ya!  Aku tipikal orang yang  harus kenal dulu baru ketemu, yang harus  nyaman dulu baru jadian. Jadi intinya balik lagi ke nyaman ya.  Nah, sewaktu itu, cukup beberapa kali terjadi kenal dan jadian yang tidak bertahan lama, akhirnya di kelas 1 SMA aku mulai mengenalnya. Seseorang yang biasa saja, tapi menurutku sangat menarik, dan saat itu aku sedang berada difase bucin kebangetan. Dia orang pertama yang membuatku merasa nyaman dan nyambung saat ngobrol, yaa meskipun sering kali dia mengataiku absurd. Tapi setidaknya, aku menyukai dia yang selalu bisa mengimbangiku. Waktu berjalan cukup lama untuk umur "pacaran" dengannya, bagiku. Sampai pada akhirnya, kita sudah berada diujung yang bingung harus kemana. Maju atau berhenti. Kita berkompromi setelah beberapa hal terjadi dalam dua tahun, setelah putus-nyambung yang tidak ada hentinya.  Kita memu...

Hari ke-5 : Ada yang memilih berhenti sebelum berjalan

Ada yang memilih berhenti sebelum berjalan, bukan berbalik, ia hanya enggan untuk melangkah. Sesuatu yang dimulai, tidak selalu perlu diselesaikan. Adakalanya semua itu hanya untuk dihentikan jika sudah tidak semestinya. Membuka pintu baru bukan berarti mempersilahkan seluruh orang untuk masuk, terutama seseorang yang hanya menawarkan diri bersama dalam masa depan, dan enggan menerima sesuatu dimasa lalu. DIA TIDAK PANTAS masuk dalam kamus berjuang. Semua orang berhak memilih, bahkan orang itu. Kamu yang hanya perlu menerima bahwa tidak semua orang bisa menatap baik padamu, bahkan orang yang menyukaimu saja akan membencimu ketika kamu melakukan salah. Apalagi orang yang masih belum mengenalmu dan ingin tahu mengenaimu.

Hari ke-4 : Apa kamu merindukanku?

Aku membuka pintu, dan mendapatkan kamu sudah berdiri disana, sembari menatapku kamu mengulas senyum indah. Sapaan yang kuharap tiap pagi bisa kunikmati. Tapi pada kenyataannya, kamu bukanlah sebuah harapan. Bukannya aku menanyakan ada apa atau sedang apa kamu berada dirumahku, aku malah melontarkan pertanyaan "Apa kamu merindukanku?" seolah hanya jarak yang memisahkan kita, sedangkan sebenarnya seluruh hal didunia ini telah memisahkan. Dan masih dengan senyum itu, kamu menjawabnya dengan lugas, "Ya!" kemudian sepersekian detik sesuatu yang hangat merengkuhku. Dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukanmu. Seperti seluruh rindu itu lebur dalam satu dekapan. Aku segera menarik diri, menahan agar tak lagi jatuh pada kehangatan yang malah membuatku semakin sakit. "Kenapa? apa kamu tidak merindukanku juga?" pertanyaan itu seketika kubantah dalam hati. Siapa yang tidak merindukanmu? seseorang yang sampai hari ini masih membuatku berat membuka pintu baru, seseo...

Hari ke-3 : Berjuang

Berjuang ada banyak dalam segala hal, dan untuk para melankolis sepertiku, berjuang lebih kepada pengorbanan untuk mencapai keadaan dimana aku dan kamu bisa bersatu, menciptakan "kita". Tapi tidak hanya itu sebenarnya, perjuangan yang cukup berarti bagiku adalah menurunkan berat badan. Yah! Dimasa-masa SMA mungkin saja gemuk adalah impian, segala macam makanan disantap seolah aku bisa berhasil gemuk, tapi naasnya tidak. Berat badanku masih sekitar 45 kg, tidak ideal. Seperti awkward moment, impian aku di masa itu ternyata terjadi di 2 tahun belakangan ini. Tapi sebagai manusia, yang tidak pernah puas dengan doanya sendiri, aku menyesalkan kenapa pernah berdoa untuk menjadi gemuk.  Waktu itu beratku sudah tidak ideal lagi. Diawal tahun lalu, beratku hampir mencapai 65 kg. Baju tidak ada yang muat, ukuran normalku biasanya L, berubah menjadi XL bahkan bisa XXL. Mengalami itu, tekadku untuk gemuk seketika berbalik.  Lagi-lagi sebagai manusia, selalu merasa tidak puas.  Akhir...