Langsung ke konten utama

Hari ke-3 : Berjuang

Berjuang ada banyak dalam segala hal, dan untuk para melankolis sepertiku, berjuang lebih kepada pengorbanan untuk mencapai keadaan dimana aku dan kamu bisa bersatu, menciptakan "kita".
Tapi tidak hanya itu sebenarnya, perjuangan yang cukup berarti bagiku adalah menurunkan berat badan. Yah!
Dimasa-masa SMA mungkin saja gemuk adalah impian, segala macam makanan disantap seolah aku bisa berhasil gemuk, tapi naasnya tidak. Berat badanku masih sekitar 45 kg, tidak ideal.
Seperti awkward moment, impian aku di masa itu ternyata terjadi di 2 tahun belakangan ini. Tapi sebagai manusia, yang tidak pernah puas dengan doanya sendiri, aku menyesalkan kenapa pernah berdoa untuk menjadi gemuk. 
Waktu itu beratku sudah tidak ideal lagi. Diawal tahun lalu, beratku hampir mencapai 65 kg. Baju tidak ada yang muat, ukuran normalku biasanya L, berubah menjadi XL bahkan bisa XXL. Mengalami itu, tekadku untuk gemuk seketika berbalik. 
Lagi-lagi sebagai manusia, selalu merasa tidak puas. 
Akhirnya aku mengubah tekadku. Aku ingin berat badanku turun. Bukan menjadi kurus sekarang, tapi lebih ke ideal. Dan itu semua tidak mudah ya. Harus merombak pola makan, olahraga secara teratur, minum air yang cukup, dan sebagai pengingat aku download aplikasi penghitung kalori. Well, hal itu berjalan cukup lama dan berat. 

Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Benar bukan?
Yaa, meski terbilang diet yang tidak terlalu ketat, aku berhasil nyatanya. Aku mencapai angka yang bisa dibilang ideal, 54 kg. Aku tidak mau sombong, tapi aku memang sombong haha. Tidak tidak, aku hanya bangga dengan diriku sendiri, yang juga bisa terjadi pada siapapun diluar sana. Bahkan juga ada yang tidak perduli dengan berat badannya, asal sehat. Tunggu, hal itu sangat benar. Meniatkan diri untuk diet, bukan hanya untuk ideal, tapi sehat. Untuk apa kurus, atau gemuk jika badan kita tidak sehat. Kita tidak bisa menikmati apa yang kita mau bukan?

Tapi yang paling terpenting, cintai diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...