Aku membuka pintu, dan mendapatkan kamu sudah berdiri disana, sembari menatapku kamu mengulas senyum indah. Sapaan yang kuharap tiap pagi bisa kunikmati. Tapi pada kenyataannya, kamu bukanlah sebuah harapan.
Bukannya aku menanyakan ada apa atau sedang apa kamu berada dirumahku, aku malah melontarkan pertanyaan "Apa kamu merindukanku?" seolah hanya jarak yang memisahkan kita, sedangkan sebenarnya seluruh hal didunia ini telah memisahkan.
Dan masih dengan senyum itu, kamu menjawabnya dengan lugas, "Ya!" kemudian sepersekian detik sesuatu yang hangat merengkuhku. Dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukanmu. Seperti seluruh rindu itu lebur dalam satu dekapan.
Aku segera menarik diri, menahan agar tak lagi jatuh pada kehangatan yang malah membuatku semakin sakit.
"Kenapa? apa kamu tidak merindukanku juga?" pertanyaan itu seketika kubantah dalam hati. Siapa yang tidak merindukanmu? seseorang yang sampai hari ini masih membuatku berat membuka pintu baru, seseorang yang hingga kini masih menempati bagian paling inti dalam hati ini. Tapi apa yang terjadi jika aku mengiyakan pertanyaanmu? apakah semuanya berubah, apakah kamu akan berbalik dan melihatku? tidak kan? Percuma.
"Jika bisa, aku sudah melakukannya," Jawaban yang pernah kudengar seperti sebelum-sebelumnya. "Tapi aku tidak bisa."
Kemudian aku terbangun, menghembuskan napas dengan berat. Mengusap wajah dan beristighfar. Hanya mimpi!
Bahkan dalam mimpi pun sama menyakitkannya.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu