Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Hari ke-14 : Kukira Kamu Seperti Senja

Ku kira senja berubah rasanya ketika kamu telah pergi, Tapi sore ini dia nampak masih memukau dan tetap hangat meski tuannya telah lama pergi bersama pagi. Tuan, lihat lah. Senja tak sepertimu, yang pergi saat bahagia dan datang saat lelah. Aku tak menyalahkanmu, tentang luka, pengorbanan, dan air mata. Tidak pernah kutau, bagaimana sesungguhnya dirimu ketika aku masih berjalan menuju arahmu. Mungkin saja kamu lebih terluka dariku, Mungkin saja kamu lebih tertatih dariku, Mungkin saja kamu lebih berdarah-darah dariku, Mungkin saja. Saat itu aku sibuk berjalan kearahmu, dengan pengorbananku. Sehingga aku tidak tau bagaimana keadaanmu. Yang kutau sekarang, kamu sudah tak mau lagi berjuang. Pengorbananku selama ini, menjadi sia-sia terbuang. Tapi tak mengapa. Kamu mengajariku, meski kamu telah pergi, namun orang-orang baik masih bersamaku. Merangkulku, dan menjadi tamengku yang sebenarnya kuharap adalah kamu.

Hari ke-13 : Menitik Hentikan

Selamat malam, Tuan. Apakah aku masih boleh berharap akan kita yang bisa bersama lagi?  Atau memang sudah seharusnya aku menitik hentikan kejenuhan ini ditengah jalan, dan berjalan menuju ujung dengan rasa yang hambar. Aku masih berharap, tapi aku juga sedang berjuang melupakanmu. Jadi sebaiknya aku harus seperti apa? Kamu sudah tau tentangku, Tentang seperti apa dan bagaimana kehidupanku, Dan karena itu, kamu hanya meletakkanku pada barisan orang yang menjadi cadangan, bukan pilihan. Sedangkan bagiku? Bagiku kamu seseorang yang penuh dengan kesempurnaan, hingga tidak sadar bahwa perasaanku telah jauh mengharapkan.  Aku tau, hati ini nantinya tetap akan patah. Tapi aku masih saja keras kepala memperjuangkanmu hingga terluka. Tuan, selamat malam. Setidaknya kamu tau bahwa aku masih ada diambang antara; bertahan atau melepaskan.