Langsung ke konten utama

taylor swift - crazier ~

I've never gone with the wind
Aku tak pernah tersapu angin

Just let it flow
Kubiarkan saja ia mengalir

Let it take me where it wants to go
Kubiarkan ia membawaku kemanapun dia mau

Till you open the door
Hingga kau buka pintu

There's so much more
Masih begitu banyak

I've never seen it before
Yang tak pernah kulihat sebelumnya


I was trying to fly
Aku mencoba tuk terbang

But I couldn't find wings
Tapi tak bisa kutemukan sayap

Then you came along
Lalu kau hadir

And you changed everything
Dan kau mengubah segalanya


CHORUS
You lift my feet off the ground
Kau angkat kakiku dari bumi

Spin me around
Memutar-mutarku

You make me crazier, crazier
Kau membuatku lebih gila

Feels like I'm falling and I
Rasanya aku sedang jatuh dan aku

I'm lost in your eyes
Aku hilang di matamu

You make me crazier
Kau membuatku lebih gila

Crazier, crazier
Lebih gila, lebih gila


Watched from a distance as you
Melihat dari kejauhan saat kau

Made life your own
Membangun hidupmu sendiri

Every sky was your own kind of blue
Setiap langit adalah warna birumu sendiri

And I wanted to know
Dan aku ingin tahu

How that would feel
Bagaimana rasanya


And you made it so real
Dan kau membuatnya begitu nyata


You showed me something that I couldn't see
Kau tunjukkan padaku sesuatu yang tak bisa kulihat

You opened my eyes and you made me believe
Kau buka mataku dan kau membuatku percaya


CHORUS

Baby, you showed me what living is for
Kasih, kau tunjukkan padaku untuk apa hidup ini

I don't want to hide anymore..... more....
Aku tak ingin lagi sembunyi....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...