Langsung ke konten utama

Ayah, Aku Kangen

Ayah apa kabar disurga?
Aku kangen yah, kangen banget.
Entah sudah berapa tahun kau meninggalkan kita, aku kangen keluarga kita yang dulu.

Yah aku ingat sekali nasihatmu, manjaanmu bahkan ketika kau marah. Aku kangen itu yah
Apa ayah ingat ketika kita jalan-jalan bareng, ayah selalu manjain aku. Akibatnya sampek sekarang aku paling males makan dirumah. Haha
Ayah inget lagi gak, waktu ayah kebingungan cuman gara-gara tanganku digigit semut. Haha
Dan lagi yah, ayah inget waktu kita pergi kesawah cuman buat main-main, dan ayah rela gendong gara-gara aku takut ulat. Haha

Hal itu tidak pernah bisa aku lakukan lagi, sejak ayah mulai sering merasakan sakit diperutnya. Sakit yang membuat badannya menjadi kurusan. Tapi dia ayahku, dia seseorang yang kuat, orang yang tegar. Didepan semua orang dia sangat lihai menutupi rasa sakitnya, iya hebat sekali. Tapi rasa sakit itu tidak bisa lagi ditutupi ketika penyakit itu benar-benar sudah menyiksanya. Dan aku tak pernah melihat ayah kesakitan seperti itu, rasanya ingin menangis mengingatnya.
Ayah berperang dengan penyakit ganas itu, penyakit yang terus mengrogoti tubuhnya. Ingin rasanya berbagi penyakitnya denganku, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Orang yang selama ini sangat tegar dan kuat, hanya terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Tapi dia tetap menjadi orang yang hebat, ditengah-tengah rasa sakitnya itu, dia masih bisa menghibur teman sekamarnya dengan membuat lelucon. Ayah, itu kamu. Kamu tetap menjadi orang yang kuat

Hingga suatu ketika, kau benar-benar tak mampu menahan rasa sakitmu itu. Tidak pernah kusangka harus secepat ini yah, aku berlari menyusuri koridor-koridor rumah sakit hanya untuk bertemu denganmu. Dan setelah itu, kau memintaku untuk memelukmu. Pelukan terakhir dari seorang ayah terhebat dihidupku, dengan kalimat syahadat dan menghadap kiblat kau benar-benar pergi, pergi meninggalkan aku ibu kita dan dunia. Kau benar-benar pergi yah. Kenapa secepat itu! Tapi aku yakin, allah sangat menyayangi kamu yah, sehingga mengambilmu lebih dulu setelah memberimu cobaan.

Akan ada masanya semua manusia akan meninggalkan dunia , tapi jika boleh aku memutar waktu . aku tak pernah ingin kehilanganmu yah , aku ingin menghabiskan waktuku hanya bersamamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...