Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Penantian (2)

Menanti, hanya itu yang bisa kulakukan selain merindukan siapapun yang kelak menjadikanku cahaya syurganya. Menantinya dalam bait doa dalam diamku, dan mencoba menelisik siapa gerangan sosok itu, yang masih begitu samar dan buram. Untuknya, yang masih jauh dan terlalu menyilaukan untuk bisa mendekat. Aku disini sudah istiqomah menantimu. Tapi rasanya Allah masih sangat merahasiakan keberadaanmu, Dia masih menyuruh kita untuk saling memperbaiki diri sampai akhirnya bertemu dengan jiwa yang saling melengkapi. Menanti dengan rasa harap siapapun yang nanti akan dipertemukan denganku, ketika melihatku, dia akan menganggapku sebagai kunci dan jalannya untuk menuju syurga, semoga. Tapi untuk dia yang masih jauh dan dirahasiakan oleh-Nya. Boleh aku meminta untuk hatinya selalu terjaga dari banyak wanita yang mencoba masuk kedalamnya, boleh aku bersikap sedikit egois? Karena aku ingin hanya ada aku dan Allah lah yang ada dihatinya, bukan wanita lain yang pernah singgah meski sebentar namun me...

Penantian

Terkadang aku memikirkanmu, siapapun yang sudah tertulis namanya berdampingan denganku diLauh Mahfudz. Apa Allah masih sangat merahasiakannya dengan rapat, sampai aku tak diberi kesempatan untuk menerkanya, atau apa selama ini seseorang itu begitu dekat, sampai aku tidak terfikirkan olehnya. Entahlah. Ini semua bagian dari takdir mutlak dari-Nya. Namun, apa boleh aku berhenti. Berhenti menerka-nerka, berhenti mencari tahu, dan berhenti menanti. Karena sesuatu yang ingin aku hentikan, rasanya begitu menyakitkan jika diteruskan. Namun aku juga tahu, pada hakikatnya seorang perempuan hanya bisa menanti, siapa yang akan memenangkan hatiku kelak. Aku tahu, dan aku berusaha. Menjadi perempuan muslimah yang menantinya dalam keimanan.

Angin, katakan pada Daun

Daun, boleh aku menolongmu dari terpaan angin yang seringkali menjatuhkanmu. Aku mulai mengedarkan pandangan, ketika sekerumunan anak mulai keluar dari sekolahan. Melihatnya, menjadikanku ingat bagaimana rasanya menjadi seperti mereka, menanti-nantikan waktu untuk istirahat, dan pulang. Ya, hanya itu waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh siswa-siswi sepertiku, dulu. Duduk diantara dua pohon yang menggugurkan daunnya, membuat mereka berserakan diatas tanah, aku terkadang berfikir, kenapa angin terlalu jahat menjatuhkan daun yang sudah menetap ditempatnya tumbuh. Nafasku tercekat saat ingatanku memutar ketika laki-laki yang kusebut monster, dulu pernah menegurku karena rok abu-abuku tersangkut paku dibawah bangku yang sengaja dibentuk seperti kayu, dan bodohnya, tanpa aku sadari rok itu sobek. *** "Esha." Aku ingat sekali untuk pertama kalinya laki-laki itu memanggilku. "I.. Iya Kak?" Jawabku, untuk berbicara dengan benar saja aku susah. Bagaimana aku bisa la...

Wajah Senja dibalik Sang Monster

Monster Senja, ya kusebut dirinya seperti itu. Seperti halnya sebuah senja yang redup dan warnanya yang menyiratkan rasa kenyamanan, dia pula yang sudah menyentuhkan padaku apa itu kenyamanan. Entah bagaimana awalnya, namun itu semua berjalan seiring waktu, kadang aku berfikir seperti aliran air yang selama ini kuikuti semakin menipis dan mengalir dengan tenang. Begitulah kukatakan ketika Monster Senja itu semakin banyak mengisi waktuku. Kenapa dia kuberi sebutan Monster? Padahal Senja sudah cukup baik tanpa embel-embel Monster. Kenapa? Jika sudah ada sebutan Monster, pasti difikiran kita makhluk besar yang menyeramkan, yang menakutkan dan menyebalkan. Ya, memang benar. Aku dulu pernah menyebutnya Monster sebelum ada tambahan Senja, sikapnya yang terlihat sombong, dan seenaknya sendiri, membuatku merasa antara takut dan kesal. Tapi opiniku tentangnya selama ini terelakan, dia tidak seperti yang kutuduhkan, tidak. Sikapnya jauh dari seorang Monster yang selama ini kutakuti dan membua...