Monster Senja, ya kusebut dirinya seperti itu.
Seperti halnya sebuah senja yang redup dan warnanya yang menyiratkan rasa kenyamanan, dia pula yang sudah menyentuhkan padaku apa itu kenyamanan. Entah bagaimana awalnya, namun itu semua berjalan seiring waktu, kadang aku berfikir seperti aliran air yang selama ini kuikuti semakin menipis dan mengalir dengan tenang. Begitulah kukatakan ketika Monster Senja itu semakin banyak mengisi waktuku.
Kenapa dia kuberi sebutan Monster? Padahal Senja sudah cukup baik tanpa embel-embel Monster. Kenapa?
Jika sudah ada sebutan Monster, pasti difikiran kita makhluk besar yang menyeramkan, yang menakutkan dan menyebalkan. Ya, memang benar. Aku dulu pernah menyebutnya Monster sebelum ada tambahan Senja, sikapnya yang terlihat sombong, dan seenaknya sendiri, membuatku merasa antara takut dan kesal. Tapi opiniku tentangnya selama ini terelakan, dia tidak seperti yang kutuduhkan, tidak. Sikapnya jauh dari seorang Monster yang selama ini kutakuti dan membuatku kesal.
Kamu tau Monster Senja? Terkadang aku sendiri bingung dengan sebutan kita apa. Friendzone kah? TSS (teman sekedar sms) kah? Atau HTS? Ah, rasanya semua itu cocok untuk kita, tanpa terkecuali.
Sudahlah, tidak penting untuk sebutan kita apa, aku hanya tetap mengikuti air yang mengalir, entah nanti kamu akan menempati tempat yang lebih dari sebelumnya, atau bahkan aku harus bisa menghapusnya karena jejak ataupun bayangnya sudah menghilang.
Tentu, air mengalir beribarat sebuah takdir yang sudah tertulis oleh Allah. Aku hanya bisa mengikutinya, dan berusaha menerkanya, setidaknya hatiku tetap kujaga tanpa perlu banyak waktu menyembuhkan luka.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu