Terkadang aku memikirkanmu, siapapun yang sudah tertulis namanya berdampingan denganku diLauh Mahfudz. Apa Allah masih sangat merahasiakannya dengan rapat, sampai aku tak diberi kesempatan untuk menerkanya, atau apa selama ini seseorang itu begitu dekat, sampai aku tidak terfikirkan olehnya. Entahlah. Ini semua bagian dari takdir mutlak dari-Nya.
Namun, apa boleh aku berhenti. Berhenti menerka-nerka, berhenti mencari tahu, dan berhenti menanti. Karena sesuatu yang ingin aku hentikan, rasanya begitu menyakitkan jika diteruskan. Namun aku juga tahu, pada hakikatnya seorang perempuan hanya bisa menanti, siapa yang akan memenangkan hatiku kelak. Aku tahu, dan aku berusaha.
Menjadi perempuan muslimah yang menantinya dalam keimanan.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu