Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Bayangan yang samar

Terkadang dunia bertanya, siapa kamu yang bayangnya mengganggu pandanganku. Yang membuatku menghilangkan bayangan lain yang mencoba mencari jejakku, yang mungkin saja dengan mudah bayangnya berubah menjadi sosok yang tak lagi samar. Sedangkan kamu? Apa sudah tentu bisa berubah menjadi tak samar lagi seperti bayangan lainnya? Sampai sekarang aku hanya bisa melihatmu dalam bentuk bayangan, bayangan yang masih sulit kuterka dimana letak hatinya dan bertepi dimanakah ujungnya? Hatiku? Atau hati orang lain yang senantiasa membuka matanya lebar-lebar untuk bisa melihat sosokmu dan merangkulmu, tidak lagi membiarkanmu membayangi anganku, tanpa lagi memperdulikan kerinduanku tentang bagaimana rasa bahagianya melihat bayanganmu, hanya bayangan, yang tak bisa kusentuh dan kurasa perasaannya. Begitu samar dan gamang, akankah aku masih mampu untuk memburamkan mata cuma hanya untuk memberi satu-satunya tempat bayanganmu hadir. Bagaimana aku harus menempatkan rasa yang terkadang bimbang, sedangkan ...

Kejutan dari Tuhan 2

Ketidak sangkaan gadis itu pada takdir yang mempertemukan hatinya pada seseorang yang  namanya saja tidak terbesit sedikitpun dalam fikiran untuk masuk dalam doa-doa yang dia sengajakan, kini berangsur menjadi sebuah rasa yang berbeda. Benar apa yang sudah dia prediksi sebelumnya, membiarkan rasa yang mengalir akhirnya bermuara pada satu hati, meski itu tidak pernah direncanakan. "Oke, warna putih ya Fah." Suara Ariq menyadarkan lamunan gadis itu. "Apa tidak sebaiknya ada campuran warna lain Kak?" Ucap Alifah ketika semua sudah diputuskan, dan warna putih adalah warna utama dalam dekor pernikahan mereka. "Putih sudah cukup Fah, warna itu adalah warna terbaik, kesuciannya juga ketenangannya." Jawab Ariq, matanya begitu teduh namun tak seteduh biasanya. Mata yang biasanya terlihat hitam dan tajam seakan siapapun yang melihatnya akan ketakutan dan menunduk, kini tak berkarisma sebelumnya. Begitupun dengan kantung matanya yang membesar, atau mungkin ra...

Monster penyempurna senja

Sore ini senja datang begitu sempurnanya dengan warna orange semburat kemerah-merahan, sesempurna hari ini ketika si Monster itu datang dengan wajah manisnya, semanis lolipop yang ia bawa. Coba saja dulu persepsiku tak sekacau itu, mungkin sebutan monster tak akan pernah dia sandang, meski hanya dalam batin aku memanggilnya. Hai monster, hai. Monster baik seperti senja sore ini yang begitu baik menampakkan wajahnya yang terlalu asri dan menawan. Tanpa aku sadari aku pernah menulis tentang diriku sendiri, tentang kesalahanku yang hanya melihat seseorang dari sisi sebelahnya saja. Yang menganggap seseorang yang kulihat buruk, tidak akan bisa berbuat baik. Yang terlihat sombong, tidak akan mungkin bisa merendah. Tapi ternyata, banyak orang yang kuanggap baik, tidak lebih hanya untuk menyenangkan hatiku saja, dan akan berubah jika dibelakangku. Sudah kubuktikan itu semua. Tingkahnya yang terlihat manis, cukup membuatku percaya, tapi itu tidak untuknya, kepercayaan itu malah dibuatnya se...