Langsung ke konten utama

Bayangan yang samar

Terkadang dunia bertanya, siapa kamu yang bayangnya mengganggu pandanganku. Yang membuatku menghilangkan bayangan lain yang mencoba mencari jejakku, yang mungkin saja dengan mudah bayangnya berubah menjadi sosok yang tak lagi samar. Sedangkan kamu? Apa sudah tentu bisa berubah menjadi tak samar lagi seperti bayangan lainnya? Sampai sekarang aku hanya bisa melihatmu dalam bentuk bayangan, bayangan yang masih sulit kuterka dimana letak hatinya dan bertepi dimanakah ujungnya? Hatiku? Atau hati orang lain yang senantiasa membuka matanya lebar-lebar untuk bisa melihat sosokmu dan merangkulmu, tidak lagi membiarkanmu membayangi anganku, tanpa lagi memperdulikan kerinduanku tentang bagaimana rasa bahagianya melihat bayanganmu, hanya bayangan, yang tak bisa kusentuh dan kurasa perasaannya.
Begitu samar dan gamang, akankah aku masih mampu untuk memburamkan mata cuma hanya untuk memberi satu-satunya tempat bayanganmu hadir. Bagaimana aku harus menempatkan rasa yang terkadang bimbang, sedangkan bayanganmu tak kunjung jelas. jika saja aku mampu, akan aku sentuh dan ku keratkan kerah bajumu dengan tanganku, memaksamu untuk berbicara tentang bagaimana aku dan kamu (read: bayangan) yang sesungguhnya. Menyuruhmu memperjelas yang sebenarnya meski satu kata, entah itu membahagiakan atau lebih menyakitkan. Sungguh kalau aku bisa melakukannya, sudah kulakukan sejak aku menemukan bayanganmu yang mengisi pandanganku.
Tapi apalah dayaku, yang melihatmu saja masih sangat samar, apalagi bisa menyentuh dan mengeratkan kerah bajumu, juga memaksamu berbicara semuanya. Aku cukup bisa menikmati indahnya bayangan yang menggangguku, membiarkan rasa itu terus mengalir tanpa berniat memberhentikannya, meskipun sampai kapan aku akan mengetahuinya masih belum jelas kepastiannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...