Langsung ke konten utama

Kejutan dari Tuhan 2

Ketidak sangkaan gadis itu pada takdir yang mempertemukan hatinya pada seseorang yang  namanya saja tidak terbesit sedikitpun dalam fikiran untuk masuk dalam doa-doa yang
dia sengajakan, kini berangsur menjadi sebuah rasa yang berbeda. Benar apa yang sudah dia prediksi sebelumnya, membiarkan rasa yang mengalir akhirnya bermuara pada satu hati, meski itu tidak pernah direncanakan.

"Oke, warna putih ya Fah."
Suara Ariq menyadarkan lamunan gadis itu.

"Apa tidak sebaiknya ada campuran warna lain Kak?"
Ucap Alifah ketika semua sudah diputuskan, dan warna putih adalah warna utama dalam dekor pernikahan mereka.

"Putih sudah cukup Fah, warna itu adalah warna terbaik, kesuciannya juga ketenangannya."
Jawab Ariq, matanya begitu teduh namun tak seteduh biasanya.

Mata yang biasanya terlihat hitam dan tajam seakan siapapun yang melihatnya akan ketakutan dan menunduk, kini tak berkarisma sebelumnya. Begitupun dengan kantung matanya yang membesar, atau mungkin rasa lelahnya yang berlebihan membuatnya seperti tidak bersemangat kali ini.

"Baiklah, apapun warnanya, kalau kamu yang memilih sudah pasti terbaik Kak."
Ujar Alifah agar membuat laki-laki itu sedikit tersenyum dan bersemangat. Meskipun kata-katanya tak senikmat kasur tempat menautkan tubuh dan rasa lelah laki-laki itu.

"Bisa sekali kamu."
Ariq tersenyum sekilas sembari mengusap-usap puncak kepala gadis yang tertutup oleh kain kerudung.

"Kamu terlihat kecapekan Kak, kita pulang sekarang dan kamu bisa istirahat."
Ucap Alifah lagi. Dia melihat kening laki-laki itu berkeringat.

"Nggak apa-apa kita pulang?"
Tanya Ariq, padahal masih banyak rencana yang harus mereka lakukan sebagai persiapan pernikahan mereka.

"Nggak apa-apa, tapi tunggu Kak."
Gadis itu mengambil sesuatu dari tas kecilnya, menarik tangannya yang membawa sebuah tisu.
Dengan telaten, jemarinya membersihkan keringat yang ada dikening laki-laki itu.
"Sudah, begini kan cakep."
Alifah selesai membersihkan dan mendapat hadiah senyuman manis dari laki-laki didepannya.

"Terimakasih."
Ucap Ariq memandangnya teduh.

"Sama-sama. Baiklah, yuk, kita pulang Kak."
Ucap Alifah yang mengerti bagaimana keadaan laki-laki itu.

Langkah mereka pun gontai menuju parkiran dimana mobil mereka berada. Namun hujan tiba-tiba datang tanpa terduga, mengguyur membasahi kedua orang yang sedang berlari menuju mobilnya, tapi apalah daya baju mereka sudah basah akan air yang tentu begitu deras menjumpai mereka.

"Fah, ada martabak manis. Itu makanan kesukaanmu kan? Tunggu disini sebentar, aku akan membelikannya untukmu."
Ucap Ariq yang sudah berada didlam mobil dan hendak membuka kembali pintunya, namun dicegat oleh Alifah.

"Tidak perlu Kak, ini hujan, nanti baju kamu makin basah lagi. Lain waktu kan bisa."
Cegah Alifah. Sebenarnya jika ada kalimat martabak manis, ludahnya pasti akan berubah serasa makanan itu, dan fikirannya pasti ingin segera melahapnya. Namun dia tidak mau merepotkan calon suaminya itu, wajah lesu yang harus menerobos hujan, bukan hal baik untuk dilakukan.

"Aku tau kamu tidak akan menolak jika hal itu tentang martabak manis. Lagian bajuku sudah basah, kan sekalian."
Jawab Ariq yang sudah menghilang bersama sosoknya, menerobos hujan dan menyebrang jalanan untuk menjangkau sebuah toko kecil penjual martabak.

Alifah tersenyum, ternyata kedekatannya selama ini dengan Ariq, membuat laki-laki itu tau apa yang suka dan tidak disukai oleh gadisnya itu.
Menghilang bersama langkah laki-lakinya yang menjauh, mata gadis itu menemukan tasbih kecil didalam jok samping setir. Tasbih berwarna coklat yang pernah diberikan laki-laki itu padanya.

Jadi, Ariq memiliki dua tasbih coklat kecil dan memberikannya satu pada Alifah.
Gadis itu baru tersadar, jika selama ini tasbih yang diberikan laki-laki itu mempunyai satu pasangan lainnya. Dia kembali tersenyum setelah menemukan kenyataan, dia masih ingat ketika mereka masih berteman dan Ariq memberikannya tasbih kecil yang berasalan agar Alifah tidak suka galau, dilema, gundah gulana, dan apalah itu yang pernah Ariq katakan. Lucu memang mengingat hal itu.

Alifah mengambil benda kecil itu, dan memutar satu demi satu butiran tasbih sembari mengucapkan kalimat tasbih. Dia kembali mengingat dimana saat dirinya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya dan merasa tidak sanggup, Ariq datang dengan wajah cerianya memberinya pencerahan. Bahwa apapun yang dilakukan dengan rasa tidak ikhlas, akan berakhir percuma dan hasilnya tidak akan memuaskan. Ternyata laki-laki itu selalu ada dalam ingatannya, meskipun kadang sekilas kedatangannya, namun memberi satu semangat untuknya.

"Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullaah"
Suara samar itu tiba-tiba terdengar, dan disusul deritan rem mobil yang cukup memekikan telinga.

Alifah termenung sebentar, dan akhirnya tersadar ketika orang yang ada diluar berlarian menuju tengah-tengah jalan.

Fikiran gadis itu tiba-tiba tertuju pada kalimat syahadat seseorang yang tadi dia dengar, samar namun dia mengenalinya.

"Kak Ariq."
Alifah tersadar dan mengkhawatirkan keadaan Ariq.
Dia keluar dari mobil dan berlari menuju kerumunan orang yang ada ditengah jalan.

Gadis itu mencoba mengenyahkan rasa khawatirnya, tidak mungkin apa yang ada difikirannya terjadi. Tidak mungkin suara yang tadi dia dengar adalah korban dari kecelakaan yang baru saja menewaskan satu penyebrang jalan.
Dengan kondisi hujan yang masih mengguyur, Alifah menerobos kerumunan itu dengan tasbih yang masih berada dijemarinya.

Darah bercucuran disekitar korban itu, juga membuat tubuhnya tidak bisa dikenali. Namun dia tahu betul ketika mata korban itu menutup dengan pelan menjemput mautnya, mata yang tadi baru saja dia pandang.

Alifah menghamburkan tubuhnya kearah korban yang ternyata benar adalah Ariq. Menghapus darah yang ada disekitar wajah laki-laki itu, tidak menghiraukan rasa takutnya pada darah.

Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir gadis itu, hanya untaian airmata yang membanjiri kepergian laki-laki yang akan menjadi calon imamnya. Secepat ini kah Allah mengambil kebahagiannya? Alifah segera beristighfar, mengutuk dirinya sendiri yang sudah menyalahkan Tuhan. Ini takdir, takdir yang siapapun tidak akan tau.

"Ya Allah, tempatkan calon imamku pada tempat-Mu yang paling indah, matikan dia dengan Khusnul Khotimah."
Gadis itu tidak bisa lagi mencegah tubuhnya untuk memeluk tubuh yang sudah hancur oleh luka. Dia tidak peduli.

Sedangkan seseorang yang ada dikerumunan orang, memperhatikan Alifah, ikut merasakan kesedihan berlebih gadis yang pernah ada dalam hidupnya, yang sedang menangisi laki-laki tercintanya.

***

Dan kembali mengajarkan kita, bahwa setiap apa yang terbaik, bukan hanya yang kita miliki, namun yang pergi karena pernah kita miliki.

Regards

Umi Masrifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...