Sore ini senja datang begitu sempurnanya dengan warna orange semburat kemerah-merahan, sesempurna hari ini ketika si Monster itu datang dengan wajah manisnya, semanis lolipop yang ia bawa. Coba saja dulu persepsiku tak sekacau itu, mungkin sebutan monster tak akan pernah dia sandang, meski hanya dalam batin aku memanggilnya. Hai monster, hai. Monster baik seperti senja sore ini yang begitu baik menampakkan wajahnya yang terlalu asri dan menawan.
Tanpa aku sadari aku pernah menulis tentang diriku sendiri, tentang kesalahanku yang hanya melihat seseorang dari sisi sebelahnya saja. Yang menganggap seseorang yang kulihat buruk, tidak akan bisa berbuat baik. Yang terlihat sombong, tidak akan mungkin bisa merendah. Tapi ternyata, banyak orang yang kuanggap baik, tidak lebih hanya untuk menyenangkan hatiku saja, dan akan berubah jika dibelakangku. Sudah kubuktikan itu semua.
Tingkahnya yang terlihat manis, cukup membuatku percaya, tapi itu tidak untuknya, kepercayaan itu malah dibuatnya sebagai bahan mengacaukanku, menjatuhkanku, dan mengusikku.
Sedangkan yang kuanggap begitu angkuh dan masa bodo, kini malah datang dengan sejuta kebaikannya. Dengan wajah seramnya yang berubah bak malaikat. Siapa dia? Aku takut, bukan takut kembali dikacaukan, dijatuhkan atau diusik. Aku takut karena ini semua berjalan dengan mengalirnya, membawaku perlahan dengan sendirinya jatuh meski dia tak berniat sekalipun untuk melakukan itu. Dia baik, dan tak mungkin melakukan itu. Hanya saja, jika semua yang aku rasakan bersifat samar untuknya, kemudian dia akan bersikap tak peduli, apa aku bisa kembali menata semuanya ketika saat masih membenci keangkuhannya? Kalau bisa, mungkin tidak akan sebaik semula.
Seperti perahu yang berlayar tanpa arah, apakah tidak memerlukan nahkoda untuk membawanya keujung dan menepi?
Seperti penantian yang kadang tak berbalas, apakah juga tidak ada seseorangpun yang bisa membawanya berhenti dalam pengembaraan?
Tuhan sangatlah adil, aku yakin itu, penantian demi penantian itu pada akhirnya akan tetap berujung, tapi kapan waktunya semua tidak ada yang tahu, begitupun pelakunya. Cukup menunggu siapa yang akan maju paling depan untuk berani mengambil langkah mantap untuk berniat memberhentikan.
Tak berniat menjadikan Monster senja itu bagian dari cerita ini, namun selalu saja ada yang bisa membuatnya menjadi bagian itu, dan bisa menghidupkan apa yang ada di dalamnya, tak terkecuali perasaan ini. Yang semakin tak karuan karena kebaikannya.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu