Langsung ke konten utama

Monster penyempurna senja

Sore ini senja datang begitu sempurnanya dengan warna orange semburat kemerah-merahan, sesempurna hari ini ketika si Monster itu datang dengan wajah manisnya, semanis lolipop yang ia bawa. Coba saja dulu persepsiku tak sekacau itu, mungkin sebutan monster tak akan pernah dia sandang, meski hanya dalam batin aku memanggilnya. Hai monster, hai. Monster baik seperti senja sore ini yang begitu baik menampakkan wajahnya yang terlalu asri dan menawan.
Tanpa aku sadari aku pernah menulis tentang diriku sendiri, tentang kesalahanku yang hanya melihat seseorang dari sisi sebelahnya saja. Yang menganggap seseorang yang kulihat buruk, tidak akan bisa berbuat baik. Yang terlihat sombong, tidak akan mungkin bisa merendah. Tapi ternyata, banyak orang yang kuanggap baik, tidak lebih hanya untuk menyenangkan hatiku saja, dan akan berubah jika dibelakangku. Sudah kubuktikan itu semua.
Tingkahnya yang terlihat manis, cukup membuatku percaya, tapi itu tidak untuknya, kepercayaan itu malah dibuatnya sebagai bahan mengacaukanku, menjatuhkanku, dan mengusikku.
Sedangkan yang kuanggap begitu angkuh dan masa bodo, kini malah datang dengan sejuta kebaikannya. Dengan wajah seramnya yang berubah bak malaikat. Siapa dia? Aku takut, bukan takut kembali dikacaukan, dijatuhkan atau diusik. Aku takut karena ini semua berjalan dengan mengalirnya, membawaku perlahan dengan sendirinya jatuh meski dia tak berniat sekalipun untuk melakukan itu. Dia baik, dan tak mungkin melakukan itu. Hanya saja, jika semua yang aku rasakan bersifat samar untuknya, kemudian dia akan bersikap tak peduli, apa aku bisa kembali menata semuanya ketika saat masih membenci keangkuhannya? Kalau bisa, mungkin tidak akan sebaik semula.
Seperti perahu yang berlayar tanpa arah, apakah tidak memerlukan nahkoda untuk membawanya keujung dan menepi?
Seperti penantian yang kadang tak berbalas, apakah juga tidak ada seseorangpun yang bisa membawanya berhenti dalam pengembaraan?
Tuhan sangatlah adil, aku yakin itu, penantian demi penantian itu pada akhirnya akan tetap berujung, tapi kapan waktunya semua tidak ada yang tahu, begitupun pelakunya. Cukup menunggu siapa yang akan maju paling depan untuk berani mengambil langkah mantap untuk berniat memberhentikan.
Tak berniat menjadikan Monster senja itu bagian dari cerita ini, namun selalu saja ada yang bisa membuatnya menjadi bagian itu, dan bisa menghidupkan apa yang ada di dalamnya, tak terkecuali perasaan ini. Yang semakin tak karuan karena kebaikannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...