Langsung ke konten utama

Hanyut atau mengikuti Alur?

Kau menginginkannya, aku pun begitu. Namun (kita) juga perlu tau, diantara kita ada yang lebih menginginkan semuanya sesuai apa yang sudah Dia tentukan.
Ketika kenyataan yang akhirnya benar-benar terungkap, membuat kita bimbang akan dibawa kemana kenyataan yang sejujurnya memberikan kejelasan atas apa yang ada selama ini. Akan seperti apa selanjutnya, dan bagaimana jadinya jika kita mengikuti apa yang marak terjadi pada dua insan seperti kita, yang menjadikan status sebagai patokan atas rasa yang dimiliki, menjadikan kedekatakan sebagai tanda saling memiliki. Apakah itu benar? Jika Dia tidak membenarkannya. Apakah harus dilakukan? Jika Dia melarang untuk dilakukan. Lalu semua ini harus diapakan?
Dia tidak melarang dua insan memiliki rasa yang sama, karena memang Dia-lah yang menciptakan manusia beserta perasaannya. Tapi karena itu lah dua insan itu saling di uji, sampai batas mana dia mampu, sampai hal mana dia berjuang dan berusaha.
Tidak ada yang tidak mungkin, jika bersungguh-sungguh. Bahkan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang mencintai dalam diam saja akhirnya bisa bersatu. Apakah kita tidak bisa melakukan itu?
Aah, aku akui, kita bukan manusia yang tidak luput dari kesalahan, bahkan kesalahanku beberapa waktu lalu. Tapi setidaknya kita berusaha lebih dari ini, tanpa status, tanpa kedekatakan berlebih. Hanya sebatas dua orang yang memiliki rasa, dan berusaha membawanya pada tepi yang bahagia.
Aku tidak mau hanyut dalam hal yang tak tentu menjadi pasti, aku hanya ingin mengikuti dimana alur ini akan mengalir, hingga membawaku sampai ujung, dan harapanku, jika nanti aku dapat menjangkau ujung itu, aku masih bisa menemukan dia yang tetap sama, dia yang berjanji juga untuk mengikuti kemana alur ini akan berujung. Semoga, semoga itu tak hanya menjadi bualan semata dua orang yang memiliki rasa, untuk sekarang ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...