Kau menginginkannya, aku pun begitu. Namun (kita) juga perlu tau, diantara kita ada yang lebih menginginkan semuanya sesuai apa yang sudah Dia tentukan.
Ketika kenyataan yang akhirnya benar-benar terungkap, membuat kita bimbang akan dibawa kemana kenyataan yang sejujurnya memberikan kejelasan atas apa yang ada selama ini. Akan seperti apa selanjutnya, dan bagaimana jadinya jika kita mengikuti apa yang marak terjadi pada dua insan seperti kita, yang menjadikan status sebagai patokan atas rasa yang dimiliki, menjadikan kedekatakan sebagai tanda saling memiliki. Apakah itu benar? Jika Dia tidak membenarkannya. Apakah harus dilakukan? Jika Dia melarang untuk dilakukan. Lalu semua ini harus diapakan?
Dia tidak melarang dua insan memiliki rasa yang sama, karena memang Dia-lah yang menciptakan manusia beserta perasaannya. Tapi karena itu lah dua insan itu saling di uji, sampai batas mana dia mampu, sampai hal mana dia berjuang dan berusaha.
Tidak ada yang tidak mungkin, jika bersungguh-sungguh. Bahkan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra yang mencintai dalam diam saja akhirnya bisa bersatu. Apakah kita tidak bisa melakukan itu?
Aah, aku akui, kita bukan manusia yang tidak luput dari kesalahan, bahkan kesalahanku beberapa waktu lalu. Tapi setidaknya kita berusaha lebih dari ini, tanpa status, tanpa kedekatakan berlebih. Hanya sebatas dua orang yang memiliki rasa, dan berusaha membawanya pada tepi yang bahagia.
Aku tidak mau hanyut dalam hal yang tak tentu menjadi pasti, aku hanya ingin mengikuti dimana alur ini akan mengalir, hingga membawaku sampai ujung, dan harapanku, jika nanti aku dapat menjangkau ujung itu, aku masih bisa menemukan dia yang tetap sama, dia yang berjanji juga untuk mengikuti kemana alur ini akan berujung. Semoga, semoga itu tak hanya menjadi bualan semata dua orang yang memiliki rasa, untuk sekarang ini.
Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti. Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana. "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku. Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu