Langsung ke konten utama

Mampir yuk

Hai Assalamualaikum Kakak, Adik, Mbak, Mas, Ibu, Bapak, yang jadi silent reader blog sayah haha, atau yang sekedar mampir. Just info saja, yang kepo dengan cerita apa saja yang sudah aku tulis sejak... Sejak kapan ya, aku lupa, mungkin sejak aku dipertemukan dengan dunia orange ( read : wattpad ). Atau kalian yang suka baca cerita, dan menye-menye nya berat abis, saya sudah siapkan, etdah apaan, pokoknya baca aja deh. Terserah kalian hehei.
Sebenarnya nih ya, kalo blog ini discroll kebawah, ada cerita bersambung judulnya He Is Still Distract yang pernah aku publish, dan naasnya bersambungnya keterusan, sampek gatau tamatnya kayak gimana hiks.
Jadi aku akan kasih link cerita yang aku akui saja haha, biarin si devan gak aku anggep. Eh itu seinget aku nama karakter cowoknya di cerita itu wkwk.

Berikut cerita beserta linknya :
1. Doa Dalam Diam (End)
http://my.w.tt/UiNb/PzGwEpVYlv

2. Imam Al-Hubbiy (End)
http://my.w.tt/UiNb/p0GcpaiZlv

3. Bintang Dibalik Senja (End)
http://my.w.tt/UiNb/FGOVN7mZlv

4. Aisya
http://my.w.tt/UiNb/xcoYjZqZlv

5. Cahaya Awan
http://my.w.tt/UiNb/g4IznxvZlv

6. Andai Luka Itu Lollipop
http://my.w.tt/UiNb/QQfTYpzZlv

7. Mimpi Diujung Senja (Kumpulan Cerpen)
http://my.w.tt/UiNb/TV3pTeDZlv

8. WWS Love Story
http://my.w.tt/UiNb/ngafEKHZlv

Bisa cari digoogle dengan link tersebut.

Makasih sebelumnya, sudah mampir apalagi yang mau mampir keakunku wattpad, dan baca ceritanya wkwk.

Bye.
Regards
Umi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...