Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Menunggu 4

Hai kamu! Entah sampai kapan aku terus menulis dengan judul menunggu. Sampai kapan pula aku masih dipersimpangan ini, hanya untuk menunggu sosok yang beberapa minggu ini telah hilang, bahkan membawa bayangannya juga. Hingga tidak memberiku kesempatan untuk mencari. Menunggu, hanya itu yang dapat kulakukan. Beri satu kata kunci dari teka-teki ini yang tidak mampu kupecahkan sendirian. Bantu aku, datanglah sejenak meski tanpa mampir. Sapa aku, katakan sesuatu untuk mengakhiri rasa jenuhku ini, katakan bahwa semuanya tetaplah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari menghilangnya dirimu akhir-akhir ini. Aku sadar, siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa, kita hanya pernah ada dalam suatu keadaan, dimana kita akhirnya memiliki perasaan yang sama. Tunggu dulu, perasaan yang sama bagaimana? Jika kamu bilang, perasaanmu melebihi perasaanku. Baiklah, aku tidak bisa berbicara mengenai perasaanmu, karena sulit untukku menerkanya, hanya sang pemilik perasaanlah yang tau. Sedan...

Menunggu 3

Apakah ada terbesit sedikit saja dipikiranmu untuk mengingatku? Sedikit saja. Bagaimana lelahnya aku menunggu disini, masih dipersimpangan yang sama, yang selalu kamu lewati setiap harinya. Namun seperti berkompromi dengan waktu, beberapa minggu ini waktu tak memperlihatkan sosokmu sedikit pun, bahkan aku berniat untuk tak berkedip sekalipun jika hal itu membuatku harus melewatkanmu. Dimana kamu? Taukah jika sejak beberapa minggu lalu, aku hanya bisa menulis tentangmu, yang enggan pergi dari persimpangan hanya untuk menungguimu. Katakan sesuatu, perlihatkan sosokmu meski hanya lewat bayangan. Aku hanya ingin mendengar, bahwa kamu pun sebenarnya juga merindukanku, karena kita sama, apa-apa yang kita punyai, rasakan, dan inginkan selalu sama. Aku pun ingin rasa rindu ini sama denganmu, meski dengan menghilangnya dirimu membuat keyakinanku sedikit demi sedikit berkurang. Kamu tau? Aku merasa waktu berputar semakin cepat, apa kamu pun ikut merasakannya? Karena, waktu-waktu itu terasa si...

Menunggu 2

Masih berada dipersimpangan yang sama, dengan keyakinan bahwa niatku untuk menunggu tidak akan menjadi sia-sia, semoga. Karena hingga sekarang, selangkah pun aku tak melihatnya, hentak kakinya pun aku tak mendengar. Lalu, apakah niatku akan menciut? Entahlah, siapa yang harus kuajak bicara sekarang? Disini hanya ada tiang listrik, dan bangku yang kududuki untuk menunggumu. Keduanya begitu setia menemaniku, tapi tidak bisa kuajak berkompromi. Monster Senja, datanglah, atau kalau tidak aku akan mengadukanmu kepada seluruh pembaca, bahwa kamu telah melupakanku. Anggap ini ancaman. Aku hanya ingin tau, seberapa besarkah tubuhmu sekarang, masih cocokkah nama monster untukmu? Dan, aku juga ingin tau masih semeneduhkan apa kamu sekarang, masih cocokkah nama senja untukmu? Yang pasti, sapalah aku meski hanya dengan melewatiku. Bukan hakku untuk membuatmu mampir menemaniku duduk, atau sekedar bercanda berdua denganku. Aku hanya ingin kamu menilikku sebentar, agar aku tak terlalu lelah menu...

Menunggu

Menunggu. Apa yang lebih menyebalkan dari menunggu? Ada banyak alasan kenapa orang lebih memilih menunggu daripada meninggalkan, tapi satu yang pasti, yaitu perasaan. Paling pertama mengenai tunggu-menunggu adalah karena perasaan, seseorang yang perasaannya tidak terpaku pada satu tujuan, mungkin akan mudah meninggalkan, karena dipikirannya ada banyak hal lain yang bisa diraihnya tanpa menunggu. Padahal, dengan menunggu, kita bisa tau bagaimana hebatnya rasa sabar, dan seberapa mampukah kita menguji diri sendiri untuk tidak pergi dan menyerah. Sabarlah, ini ujian. Haha, seperti qoute yang belakangan ini sedang populer. Semua yang menyangkut dengan perasaan pun sebenarnya ujian. Karena, perasaan itu lemah, tidak seperti logika yang menatap segalanya secara logis, sedangkan perasaan? Dia bilang tai pun terasa seperti coklat. Indah namun menyakitkan. Seperti kali ini, perasaan ini mengajakku untuk menunggu, sesuatu yang seharusnya perlu kupikir beberapa kali, siapa aku? Apakah berhak ...

Monster Senja

Percayalah, ketika aku mulai menuangkan baris tulisan tentangmu, maka sudah pasti kamu berarti dalam segala hal mengenai semua yang tertuang. Seperti kali ini, aku menuliskan tentangmu, dengan gamblang namun begitu samar. Monster senja, aku mencintaimu. Semudah itu menuliskannya, tapi perlu keberanian yang terlampau besar. Jadi, seseorang, siapapun itu tolong bawakan aku tabung oksigen yang paling besar! Mengertilah, indahnya mencintai itu berbeda dengan indahnya dicintai. Karena mencintai, itu tanpa perlu persetujuan siapapun, cukup hati dan perasaan, maka untuk logika, biarkan dia bermain sendiri. Hanya hati lah yang membuatmu terlihat indah meski menyakitkan, meski jarak terus tampak menjauhkan kita, dinding kokoh semakin menjulang tinggi diantara kita, menimbulkan batas yang tak terduga, yang bisa diterima oleh logika, namun tidak oleh hati dan perasaan. Jika semua itu membuatku terjatuh, maka dengan mencintai adalah hal yang membuatku bangun tanpa tertatih. Jadi, biarkan aku ...