Langsung ke konten utama

Menunggu 4

Hai kamu!
Entah sampai kapan aku terus menulis dengan judul menunggu. Sampai kapan pula aku masih dipersimpangan ini, hanya untuk menunggu sosok yang beberapa minggu ini telah hilang, bahkan membawa bayangannya juga. Hingga tidak memberiku kesempatan untuk mencari. Menunggu, hanya itu yang dapat kulakukan.
Beri satu kata kunci dari teka-teki ini yang tidak mampu kupecahkan sendirian. Bantu aku, datanglah sejenak meski tanpa mampir.
Sapa aku, katakan sesuatu untuk mengakhiri rasa jenuhku ini, katakan bahwa semuanya tetaplah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari menghilangnya dirimu akhir-akhir ini.
Aku sadar, siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa, kita hanya pernah ada dalam suatu keadaan, dimana kita akhirnya memiliki perasaan yang sama. Tunggu dulu, perasaan yang sama bagaimana? Jika kamu bilang, perasaanmu melebihi perasaanku. Baiklah, aku tidak bisa berbicara mengenai perasaanmu, karena sulit untukku menerkanya, hanya sang pemilik perasaanlah yang tau. Sedangkan aku? Jangan pernah bertanya tentang perasaanku, siapapun orangnya tidak akan pernah mengerti, karena hanya aku yang memilikinya, dan hanya akulah yang bisa merasakannya.
Seperti sebelumnya, siapa aku untukmu? Dan, bagian mana aku diduniamu? Kita hanya dua orang yang terbodohi oleh keadaan, dan diam, tidak bisa melakukan apapun, selain pasrah. Seharusnya ini tidak perlu aku eluhkan, menghilangnya kamu bukan suatu kesalahan, bukan juga suatu kebenaran. Kita terjebak dalam kungkungan waktu, yang akhirnya membuatmu tidak bisa menetap terlalu lama. Seharusnya juga, aku tidak menunggumu kembali, atau sekedar lewat didepanku. Aku tidak memiliki hak apapun, dan aku pun tidak bisa terus-terusan membuatmu mengerti. Cukup banyak kebaikanmu selama ini.
Dengan membiarkanmu pergi, untuk mencari kebahagiaan lain, harusnya bisa kulakukan itu. Tapi kenapa hatiku tidak bisa diajak berkompromi, mengambil keputusan untuk menunggu, tidak seharusnya terjadi.

Kuakui, menunggumu hingga beberapa kali, tak membuatku merasakan lelah. Entah kenapa, padahal menunggu adalah hal yang paling melelahkan.

Masih dipersimpangan yang sama, duduk dibangku yang mulai basah karena air hujan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...