Hai kamu!
Entah sampai kapan aku terus menulis dengan judul menunggu. Sampai kapan pula aku masih dipersimpangan ini, hanya untuk menunggu sosok yang beberapa minggu ini telah hilang, bahkan membawa bayangannya juga. Hingga tidak memberiku kesempatan untuk mencari. Menunggu, hanya itu yang dapat kulakukan.
Beri satu kata kunci dari teka-teki ini yang tidak mampu kupecahkan sendirian. Bantu aku, datanglah sejenak meski tanpa mampir.
Sapa aku, katakan sesuatu untuk mengakhiri rasa jenuhku ini, katakan bahwa semuanya tetaplah baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari menghilangnya dirimu akhir-akhir ini.
Aku sadar, siapa aku untukmu? Aku bukan siapa-siapa, kita hanya pernah ada dalam suatu keadaan, dimana kita akhirnya memiliki perasaan yang sama. Tunggu dulu, perasaan yang sama bagaimana? Jika kamu bilang, perasaanmu melebihi perasaanku. Baiklah, aku tidak bisa berbicara mengenai perasaanmu, karena sulit untukku menerkanya, hanya sang pemilik perasaanlah yang tau. Sedangkan aku? Jangan pernah bertanya tentang perasaanku, siapapun orangnya tidak akan pernah mengerti, karena hanya aku yang memilikinya, dan hanya akulah yang bisa merasakannya.
Seperti sebelumnya, siapa aku untukmu? Dan, bagian mana aku diduniamu? Kita hanya dua orang yang terbodohi oleh keadaan, dan diam, tidak bisa melakukan apapun, selain pasrah. Seharusnya ini tidak perlu aku eluhkan, menghilangnya kamu bukan suatu kesalahan, bukan juga suatu kebenaran. Kita terjebak dalam kungkungan waktu, yang akhirnya membuatmu tidak bisa menetap terlalu lama. Seharusnya juga, aku tidak menunggumu kembali, atau sekedar lewat didepanku. Aku tidak memiliki hak apapun, dan aku pun tidak bisa terus-terusan membuatmu mengerti. Cukup banyak kebaikanmu selama ini.
Dengan membiarkanmu pergi, untuk mencari kebahagiaan lain, harusnya bisa kulakukan itu. Tapi kenapa hatiku tidak bisa diajak berkompromi, mengambil keputusan untuk menunggu, tidak seharusnya terjadi.
Kuakui, menunggumu hingga beberapa kali, tak membuatku merasakan lelah. Entah kenapa, padahal menunggu adalah hal yang paling melelahkan.
Masih dipersimpangan yang sama, duduk dibangku yang mulai basah karena air hujan.
Komentar
Posting Komentar
Tinggalkan komentar kamu