Langsung ke konten utama

Menunggu

Menunggu. Apa yang lebih menyebalkan dari menunggu?
Ada banyak alasan kenapa orang lebih memilih menunggu daripada meninggalkan, tapi satu yang pasti, yaitu perasaan. Paling pertama mengenai tunggu-menunggu adalah karena perasaan, seseorang yang perasaannya tidak terpaku pada satu tujuan, mungkin akan mudah meninggalkan, karena dipikirannya ada banyak hal lain yang bisa diraihnya tanpa menunggu. Padahal, dengan menunggu, kita bisa tau bagaimana hebatnya rasa sabar, dan seberapa mampukah kita menguji diri sendiri untuk tidak pergi dan menyerah.
Sabarlah, ini ujian.
Haha, seperti qoute yang belakangan ini sedang populer. Semua yang menyangkut dengan perasaan pun sebenarnya ujian. Karena, perasaan itu lemah, tidak seperti logika yang menatap segalanya secara logis, sedangkan perasaan? Dia bilang tai pun terasa seperti coklat. Indah namun menyakitkan.
Seperti kali ini, perasaan ini mengajakku untuk menunggu, sesuatu yang seharusnya perlu kupikir beberapa kali, siapa aku? Apakah berhak untuk menunggu?
Bersenang-senanglah, tapi jangan pernah melupakan bahwa seseorang sedang dikunci oleh perasaannya sendiri untuk menunggu ditempat yang sama, tanpa memperdulikan berapa banyak orang yang telah berlalu lalang. Jangan khawatir, teruskan aktivitasmu secara normal, aku hanya mengingatkanmu saja. Jangan merasa telah menyakiti, karena kamu tidak melakukan apapun, kamu hanya menjalani kehidupanmu seperti biasanya, tapi sayangnya, waktu untuk saling berbincang setiap waktu berkurang sedikit-demi sedikit. Mungkin ada banyak kegiatan baru yang menyita waktumu itu ya? Tapi tidak apa, jangan terlalu dipikirkan, lanjutkan apa yang seharusnya kamu lakukan, sekali lagi aku hanya mengingatkanmu, bahwa ada seseorang yang sedang menunggumu dipersimpangan, dengan senyum yang terus mengembang, mencoba menguatkan dirinya sendiri didepan lalu lalangnya beberapa orang, berperang dengan sikap egois, dan berpacu pada rasa sabar. Tidak mudah, tapi pasti bisa.

Dipersimpangan ini, aku menunggumu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...