Langsung ke konten utama

Monster Senja

Percayalah, ketika aku mulai menuangkan baris tulisan tentangmu, maka sudah pasti kamu berarti dalam segala hal mengenai semua yang tertuang.
Seperti kali ini, aku menuliskan tentangmu, dengan gamblang namun begitu samar.

Monster senja, aku mencintaimu.

Semudah itu menuliskannya, tapi perlu keberanian yang terlampau besar. Jadi, seseorang, siapapun itu tolong bawakan aku tabung oksigen yang paling besar!

Mengertilah, indahnya mencintai itu berbeda dengan indahnya dicintai.
Karena mencintai, itu tanpa perlu persetujuan siapapun, cukup hati dan perasaan, maka untuk logika, biarkan dia bermain sendiri. Hanya hati lah yang membuatmu terlihat indah meski menyakitkan, meski jarak terus tampak menjauhkan kita, dinding kokoh semakin menjulang tinggi diantara kita, menimbulkan batas yang tak terduga, yang bisa diterima oleh logika, namun tidak oleh hati dan perasaan. Jika semua itu membuatku terjatuh, maka dengan mencintai adalah hal yang membuatku bangun tanpa tertatih. Jadi, biarkan aku mencintaimu. Biarkan aku memendam ini sendiri, meski aku mulai berhenti dicintai.

Katakan tentang indahnya dicintai? Jika dengan cara itu bisa membuat kebahagiaan?

Baca yuuuk. Remains The Same karya Umi Masrifah
Bisa disearch digoogle, dan bisa kalian intip gimana bapernya jadi Aisya (cast ceweknya).

Ada banyak rahasia, dan ada banyak juga yang bikin greget (anggap ini promosi haha). Semoga waktu kalian, yang baca blog ini, ada untuk baca ceritanya juga diwattpad hehe.

Jangan ada yang ngegerutu dihati, setiap aku nulis diblog ini ujung-ujungnya promosi buat baca cerita diwattpad. Haha. Kan emang iya. Lagian, nggak bakal kecewa dah kalo udah baca (nggak janji sih). Tapi, yang pasti udah bikin aku bahagia wkwk.
Insyallah, nih ya. Tiap bulan, aku bakal update cerpen diblog ini, biar nggak kosong melompong. Ayeee.
Dan makasih buat, monster senja, kamu yang sudah membuatku banyak menghasilkan readers bergelantungan, bergulung-gulungan, bergelayutan, apalah-apalah itu, karena sudah terpesona dengan sosokmu. Maafkan aku, menyebutmu monster senja yang uluulu alaala ayee. Haha.

Regards,
Makasih semuanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aku Telah Menjadi Ibu

Aku menatap langit-langit ruangan bernuansa putih bersekat gorden hijau khasnya. Menikmati proses sembari menunggumu yang sedang diluar mengurus segala macam tetek bengek administrasi. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu, Mas. Tapi yang jelas aku disini membutuhkanmu segera, untuk melewati segala proses ini. Karena entah kenapa; aku tiba-tiba merasa terlalu takut untuk sendirian. Banyak sekali gambaran diatas sana tentang proses selanjutnya, yang aku tidak bisa memastikan berakhir seperti apa kondisiku nanti.  Krek Mataku langsung tertuju kearah pintu yang terbuka, sesuai harapanku; kamu benar-benar sudah datang menyelesaikan urusanmu, Mas. Yang pertama kali kulihat adalah senyuman, meski wajahmu tidak bisa berbohong ada kekhawatiran disana.  "Gapapa, pokoknya yang terbaik buat kamu dan anak kita." Ucapnya langsung setelah menghampiriku yang terbaring diatas ranjang, dengan jarum infus terpasang dilengan kananku.  Yah, hari ini sudah lewat dari masa perkiraan aku melahirk...

Hanya ulang yang tak berjuang

Menikmati rasa yang dalam, hingga lupa pisau tajam sedang menikam. Menuntut berakhir bahagia, nyatanya hanya waktu yang dipaksa, sedang lupa genggaman membawa pada kata berpisah. Bolehlah kita menepi sebentar, menikmati waktu yang semakin mengerucut, dan membuat perasaanmu memudar. Aku siap!  Dengan segala konsekuensi dari kenyataan yang ada.  Ku tau, dalam doamu ada sebait nama, Dan yang tak ku tau, nama itu dimiliki oleh siapa. Selalu menyebut diriku hebat, karna mampu terluka untuk menunggumu. Tapi ternyata, yang kusebut hebat hanyalah kesia-siaan.  Menunggumu, sama saja menunggu senja datang. Seiring matahari terbenam, kamu muncul dengan indah dan pongahnya, tapi berlalu dengan cepat ketika malam mulai datang. Begitu, seterusnya. Sampai aku menyadari bahwa kamu dan senja, sama-sama indah sekaligus menyakitkan. Kamu hanya ulang yang tak berjuang. Meyakinkan, lalu kembali meninggalkan. Seperti itu caramu, untuk membuatku bertahan. Dan itu menyakitkan, Tuan.

Rahasia yang Tak Terungkapkan

Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta), Itu semua hanyalah kulit. Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah rahasia yang tak terungkapkan. Afifah membolak-balik kertas yang bertulis puisi itu, puisi sufi dari penyair Jalaludin Rumi. Tidak ada nama, atau pengirim surat itu. Dan ini sudah hampir lima kali dia dapatkan, namun tetap tak bernama. "Dari penggemar rahasia lo lagi Fah?." Tanya Intan, sahabat Afifah. Dia baru saja sampai dirumah Afifah untuk menjemputnya. Dan kembali mendapati gadis itu membaca kertas didepan pagar. "Bukan penggemar, gue orang biasa yang belum pantas dikagumi." Jawab Afifah. "Tapi gue masih bingung, siapa sebenarnya yang mengirim ini. Hampir lima kali, dan tidak ada namanya." Kembali Afifah membolak-balik kertas itu, belum puas dan masih penasaran dengan pengirim surat itu. "Lagian ya, jaman gini masih ada yang ngirim surat diam-diam. Sekarang jamannya mah telfon langsung tapi pakek nomer disembunyiin." ...