Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Kamu kembali

Aku melihatmu, melihat senyummu yang mengembang membentuk garis simetris. Andai ini bukan khayalan saja. Tapi kesadaranku tersentak, karena senyum yang kukhayalkan tak juga kunjung hilang, bahkan semakin dekat hingga menghapus jarak yang kupikir tak akan sedekat ini lagi. Kau kembali. Seseorang yang kutunggu dipersimpangan, dengan waktu yang kurasa seperti berabad-abad lamanya. Kau kembali. Disaat aku mulai lelah, dan jenuh mengarungi waktu yang terus berganti, tanpa bisa kuajak kompromi. Inilah alasannya kenapa aku bersikekeh untuk tetap disini, menunggumu dipersimpangan yang sering kita kunjungi atau sekedar kita lewati biasanya. Karena aku yakin, kamu akan kembali. Kerinduan yang kurasakan juga pasti kamu rasakan. Setelah lama kita berdebat dengan keheningan, suara yang pertama kali muncul, adalah suara yang telah lama dirindukan oleh indera pendengaranku. Dengan seksama aku mendengar suara bariton yang kudengar terasa sangat lembut. "Apa yang kamu lakukan disini?" ...

Pilihan

Apakah ada seseorang yang hidup tapi tidak punya pilihan? Jawabannya, ada. Bukannya memang tidak punya pilihan, tapi tidak diperbolehkan punya pilihan. Terkadang seseorang bersikap seolah satu keputusan adalah yang paling benar, dan menyalahkan keputusan lainnya. Dan terkadang juga, seseorang enggan mendengar lagi ucapan orang lain, karena sudah merasa keputusannya lah yang paling benar. Tapi, apakah seseorang itu pernah berpikir bahwa semua itu membuat orang lain merasa tidak punya pilihan? Setiap orang berhak memilih, setiap orang berhak menyuarakan isi hatinya, keinginannya, tapi kenapa harus dibatasi? Apakah seseorang tidak punya kehendak untuk bahagia dengan pilihannya? Lucu, ada banyak ruang cara untuk memilih, tapi pintunya telah sengaja ditutup sebelum berhasil masuk. Pilihan, pilihan, pilihan. Rasanya terlalu kecil dan mudah, banyak beberapa orang mengumbar janji, janji dan janji, berjanji bahwa seseorang tetap akan memiliki pilihan meski awalnya dipilihkan. Janji yang ...

Rindu yang menjadi Racun

Pergilah, selagi kamu bisa. Bersenang-senanglah, selagi kamu suka. Dan lupakanlah, selagi kamu mampu. Tapi satu yang pasti, kamu tidak akan bisa mengelak jika hatimu mulai meneriakkan rasa rindu. Dimana, kepergianmu tidak dengannya, kesenanganmu bukan karenanya. Dan yang berusaha kamu lupakan adalah DIA. Seseorang yang sama, yang akan mengisi ruang rindumu. Seseorang yang senyumnya mewarnai tiap harimu, seseorang yang dengan ketidak jelasannya membuatmu berdecak heran, seseorang yang selalu memakai emoticon sama tiap chat denganmu. Kamu akan merindukannya. Lalu, apakah kamu sudah berhasil pergi? Sudah bersenang-senangkah selagi kamu pergi? Atau, dengan cepat kamu sudah bisa melupakannya? Tidak penting itu semua. Karena pada akhirnya, setiap kamu berjalan pergi, rasa rindumu semakin mengekang. Membuat langkahmu terasa berat hanya untuk sekedar diangkat. Bisa apa? Mau berdamai dengan rasa rindumu? Jika dengan menyapa adalah satu-satunya obat. Laki-laki yang selalu kudengar den...

Dipersimpangan yang sama

Wajah yang selalu menyiratkan ketenangan dengan keteduhannya, membuat siapapun yang berada disampingnya memilih untuk tidak beranjak dan ingin selalu menetap. Seperti yang kulakukan sekarang. "Qil," Aku dan dia, sama-sama menoleh kearah sumber suara. Bukan karena aku dengannya kompak, tapi karena alasan lain. Berawal dari acara kelulusan. Pada saat itu dia salah satu tamu undangan yang menghadiri acara khusus dibuat untuk perpisahan angkatan ku, dia salah satu alumni juga di sekolahan dan mendapat sambutan istimewa, entah kenapa dia menjadi sorotan selama disana, banyak yang sudah akrab dengannya, bahkan beberapa guru pun ikut menyambutnya dengan gembira. Jadi, apa hanya aku orang yang tak tahu-menahu tentangnya? Tapi tidak lagi, insiden yang cukup memalukan bagiku, malah membuatku mengenalnya, bahkan menjadi temannya hingga sekarang. Terdengar begitu instan, tapi pertemanan itu tak berjalan semulus yang dipikirkan, apalagi dipertengahan dua tahun kita menjadi teman, pera...