Aku melihatmu, melihat senyummu yang mengembang membentuk garis simetris. Andai ini bukan khayalan saja. Tapi kesadaranku tersentak, karena senyum yang kukhayalkan tak juga kunjung hilang, bahkan semakin dekat hingga menghapus jarak yang kupikir tak akan sedekat ini lagi. Kau kembali. Seseorang yang kutunggu dipersimpangan, dengan waktu yang kurasa seperti berabad-abad lamanya. Kau kembali. Disaat aku mulai lelah, dan jenuh mengarungi waktu yang terus berganti, tanpa bisa kuajak kompromi. Inilah alasannya kenapa aku bersikekeh untuk tetap disini, menunggumu dipersimpangan yang sering kita kunjungi atau sekedar kita lewati biasanya. Karena aku yakin, kamu akan kembali. Kerinduan yang kurasakan juga pasti kamu rasakan. Setelah lama kita berdebat dengan keheningan, suara yang pertama kali muncul, adalah suara yang telah lama dirindukan oleh indera pendengaranku. Dengan seksama aku mendengar suara bariton yang kudengar terasa sangat lembut. "Apa yang kamu lakukan disini?" ...
Jadilah senja yang masih terang, meski langit memaksa untuk redup.